Blessed Love

Poltak Sirait Blog

The Siraits

Poltak Sirait Blog

Parhobas

Sosialisasi Perundang-undangan Kebudayaan

Brothers in Law

Poltak Sirait Blog

My Beloved Daddy

Your Blessing upon me always

Pages

Showing posts with label Parmalim. Show all posts
Showing posts with label Parmalim. Show all posts

Saturday, April 16, 2016

Mengenal Parmalim

Mengenal-kepercayaan-parmalim-di-tanah-batak



Revisi : Ras                        = Ruas
              Ibadah tahunan = Sipaha Sada (Pangharoanan Ari Hatutubu Ni Tuhan Simarimbulubosi) dan Sipaha Lima (Pameleon Bolon

Saturday, July 4, 2015

Parmalim (ParUgamo Malim)

3000 KK di Tobasa Masih Mempertahankan Ugamo Parmalim

3000 KK di Tobasa Masih Mempertahankan Ugamo Parmalim

Tribun Medan/Royandi Hutasoit
Upacara Parmalim (Pameleon Bolon Sipaha 5)
Laporan Wartawan Tribun Medan / Royandi Hutasoit
TRIBUN-MEDAN.com, Tobasa - Toga Sitorus salah seorang umat keturunan pimpinan Ugama Parmalim mengatakan bahwa masih mempertahankan Ugamo parmalim.
"Kami ada sekitar tiga ribu kepala keluarga yang masih mempertahankan Ugamo Parmalim ," ujarnya saat perayaan upacara persembahan paha lima di Huta Tinggi Lagu Boti Tobasa, Senin (29/6/2015).
Ia menuturkan seluruh penganut Ugamo Parmalim ini sudah tinggal di berbagai wilayah.
"Kita penganut Parmalim ini berada di berbagai negara, jadi pada acara ini, yang datang dari berbagai negara, ada yang dari Amerika, dari Arab Saudi, Autralia dan lainnya," ujarnya.
Ia menuturkan bawah pas acara seperti inilah mereka akan berkumpul dan mengenal satu sama lain.
"Pada saat acara ini, kami akan saling bercengkrama, memperkenalkan anggota keluarga kami masing-masing, dan tentunya memanjatkan doa kepada Debata Mula Jadi Nabolon," ujarnya.
Ia menuturkan bahwa Ugamo Parmalin ini adalah aliran kepercayaan yang mempertahankan kultural batak.
"Ugamo Parmalim ini adalah kepercayaan asli suku batak, saat ini ada sekitar seratus ribuan oranah yang masih melestarikan budaya batak, melalui Parmalim," katanya.
(cr7/tribun-medan.com)
Editor: Sofyan Akbar
Sumber: Tribun Medan

Pameleon Bolon Sipaha Lima 2015

Ritual Sipaha Lima, Rasa Syukur Parmalim kepada Debata Mulajadi Nabolon

METRO SIANTAR/DHEV BAKKARA Ribuan masyarakat Parmalim dari berbagai daerah penjuru dunia berkumpul bersama untuk merayakan hari besar Upacara Sipaha Lima dialun-alun desa Hutatinggi, Laguboti, Balige, Sumatera Utara, Senin (29/6)
METRO SIANTAR/DHEV BAKKARA Ribuan masyarakat Parmalim dari berbagai daerah penjuru dunia berkumpul bersama untuk merayakan hari besar Upacara Sipaha Lima dialun-alun desa Hutatinggi, Laguboti, Balige, Sumatera Utara, Senin (29/6)
METROSIANTAR, TOBASA-Ribuan masyarakat dari berbagai daerah, khususnya yang menganut aliran kepercayaan Malim atau biasa disebut Parmalim menggelar upacara suci Sipaha Lima.
Upacara hari besar yang digelar selama tiga hari, mulai Minggu (28/6) hingga Selasa (30/6) dipusatkan di Bale Pasogit, Desa Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti.
Sebagaimana dalam kalender Batak, Sipaha Lima diperingati setahun sekali sebagai bentuk syukur atau ungkapan terima kasih atas apa yang dicapai kepada sang pencipta Debata Mulajadi Nabolon.
Untuk tahun ini, Sipaha Lima dirayakan pada 28-30 Juni. Upacara diisi dengan doa-doa, tor-tor, penyerahan persembahan dan penyampaian nasihat-nasihat dari pimpinan Parmalim yang disebut Ihutan. Ihutan saat ini dipimpin oleh Raja M Naipospos.
Seperti penuturan Toga Sitorus, salah satu keturunan pimpinan kepercayaan Parmalim. Upacara Sipaha Lima yang paling sakral adalah upacara pemberian persembahan (Pameleon) melalui berbagai jenis makanan khas Batak dan penyembelihan seekor lembu hitam. Itu dipersembahkan kepada sang pencipta yang sebelumnya telah disucikan.
Persembahan diletakkan dalam tempat yang disediakan atau disebut langgatan dengan dipimpin langsung oleh Ihutan. Kemudian digelar acara doa dan diselingi musik gondang sabangunan.
Seperti wartawan, pada saat acara terlihat seluruh umat mengenakan sarung dan ulos. Namun ada perbedaan, dimana pria yang sudah menikah menggunakan pengikat kepala yang disebut tali-tali dari kain berwarna putih. Berbeda lagi khusuh Ihutan, mengenakan tali-tali berwarna hitam yang menandakan kepemimpinan dan tanggung jawab. Sedangkan untuk wanita, selain mengenakan sarung juga mengenakan selendang (hande-hande).
Informasi yang dihimpun, acara tersebut akan digelar hingga esok (Selasa) dengan acara penutup.
Sementara itu, informasi yang diperoleh, aliran kepercayaan Parmalim baru terbentuk diawal 1900-an oleh Raja Mulia Naipospos. Dari catatan sejarah, kronologis pendirian Parmalim berkaitan dengan kematian Sisingamangaraja XII, 17 Juni 1907 oleh Belanda. Bagi Parmalim, Sisingamangaraja XII, tak lain adalah salah seorang malim (orang suci).
Ia memimpin masyarakat Batak, termasuk dari penjajahan kolonial. Sisingamangaraja XII memberikan titah kepada Raja Mulia Naipospos, agar melembagakan ajaran-ajaran yang ia dan pendahulunya ajarkan.
Dengan demikian penganutnya dapat berkumpul bersama serta memiliki identitas agama yang jelas. Sejak itu, ajaran-ajaran Parmalim pun diformalkan melalui sebuah aliran kerpacayaan.
Kata ‘malim’sendiri berarti suci. Jadi secara umum, Parmalim mengajarkan kesucian kepada para pemeluknya. Seperti samawi lainnya, Parmalim juga memiliki rumah ibadah yang disebut ‘parsaktian’.
Mereka menyebut Tuhan dengan istilah ‘debata mulajadi nabolon’.  Juga mempunyai para nabi yang disebut  ‘malim ni debata’Malim ni debata sendiri atas 2 kelompok.
Pertama kelompok yang berdiam di Banua Ginjang (khayangan) di antaranya; Debata Na Tolu (Batara Guru, Debata Sori dan Bala BulanSi Boru Deak Parujar, Si Boru Saniang Naga dan Nagapadohaniaji.
Sedangkan kelompok kedua adalah sosok manusia yang mendapat berkat atau wahyu dari Mulajadi Nabolon untuk memimpin bangsa Batak, yakni Raja Uti, Tuhan Simarimbulubosi, Raja Na Opat Puluh Opat (44) dan Sisingamangaraja.
Selain itu, Parmalim juga memiliki kitab suci yang disebut pustaha malim. Mereka juga menggelar sejumlah perayaan suci agama. Salah satu yang paling penting dari perayaan agama itu adalah Sipaha Lima.(ft)
http://www.metrosiantar.com/2015/06/30/196933/ritual-sipaha-lima-rasa-syukur-parmalim-ke-debata-mulajadi-nabolon/

Parmalim School

Tahun 1937 Telah ada Parmalim School

Ugamo Malim Lama Terjajah kcl (Bag-2)

01-07-2015_msolnw-0001Pada saat masa penjajahan, ugamo Malim (Parmalim) terkikis ajaran agama yang masuk ke tanah Batak. Salah satu aturan yang mengekang Parmalim adalah pada zaman Zending dimana anak-anak tidak bisa sekolah sebelum di baptis. Saat itulah banyak penganut ugamo Parmalim beralih. Namun sebagian tetap bertahan meskipun harus tidak diperbolehkan mengecap pendidikan.
FREDDY TOBING-TOBASA
Menyikapi hal itu, Raja Ungkap Naipospos membuka sekolah yang disebut Parmalim School yang tempatnya di Huta Tinggi tahun 1937. Dengan bermodalkan ilmu yang ditimbanya dari sekolah pendidikan Inggris di Tambunan, Balige sebelum diangkat sebagai pimpinan ugamo Malim tahun 1955. Sekolah tersebut dibentuk dengan mengingat teladan orangtuanya yakni, parbinotoan naimbaru (ilmu baru ), ngolu naimbaru(kehidupan baru) dan tondi namarsihohot dengan prinsip tanpa mengorbankan nilai-nilai spritual Hamalimon.
Di Parmalim School yang berbentuk berupa pesantren, Raja Ungkap mendidik anak-anak Parmalim dengan bahasa pengantar bahasa Batak, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Bermodalkan ilmu pendidikan dari Parmalim School, maka Parmalim bisa bertahan dan banyak merantau.
Selain membentuk Parmalim School, Raja Ungkap Naipospos juga menggagasi Badan Pangaradoti Parguruan Parmalim (BAPPAR) dan Ugasan Torop pada tahun 1937. Tidak lain, tujuannya untuk mengatasi ketertindasan umat Parmalim dari penjajahan, kemiskinan dan kebodohan.
BAPPAR yang hingga saat ini masih ada merupakan bentuk pendidikan non formal. Tugasnya mengajarkan tentang ugamo Malim. Menyusun kurikulum bagi pelajar untuk mangisi mata pelajaran agama pada rapotr siswa.
Fakir Miskin Dijamin ugamo Malim
Dalam keorganisasian ugamo Malim juga ada Ugasan Torop yang digagasi Raja Ungkap Naipospos. Ugasan Torop ini merupakan bentuk sosial yang diperuntukkan bagi orang yang tidak mampu.
Ugasan Torop ini menjamin kelangsungan hidup fakir miskin dan anak-anak yang tidak memiliki orangtua (yatim). Jadi, tidak ada anak yatim yang terlantar ataupun orangtua yang terlantar akibat tidak mampu atau tidak memiliki saudara,” terang Monang Naipospos.
Ugasan Torop ini merupakan bentuk sosial yang diatur dan dikuasai para Malim atau orang-orang yang disucikan. Setiap Parmalim dengan semampunya wajib memberikan persembahan kepada Ugasan Toropsetiap tahun dalam konteks spritual yang tinggi. peruntukannya bagi yang orang yang pantas dibantu.
“Contohnya, ada orang yang butuh bantuan usaha, maka para Malim memberikan bantuan tersebut dariUgasan Torop. Tetapi harus benar-benar dimanfaatkan. Kemudian jika sudah mampu mengembalikan, maka harus dikembalikan lagi. Tetapi, jika salah dipergunakan, maka akan hancur. Hal itu dijamin dalam konteks spritual yang tinggi. Jadi tidak boleh main-main,” kata Monang.
Diterangkan, Ugasan Torop ini tetap berlangsung hingga saat ini. Dalam kas yang tersedia saat ini ada sebanyak 19.000 kaleng padi dan uang Rp1 miliar. Dana tahun-tahun sebelumnya telah dialokasikan untuk pembangunan gedung di pusat Parmalim dan bantuan sosial lainnya.
“Dengan Ugasan Torop ini, kami jamin tidak ada kata musim paceklik di Parmalim. Semua bisa diatasi denganUgasan Torop yang ada,” tandasnya. (bersambung)
http://www.metrosiantar.com/2015/07/02/197424/ugamo-parmalim-lama-terjajah-kcl-bag-2/

Ugamo Batak


Ugamo Malim, Pertama di Tanah Batak (Bag1)


Sipaha LimaTOBASA – Aliran kepercayaan Malim atau dalam bahasa Batak Ugamo Malim merupakan agama asli nenek moyang suku Batak pada zaman dahulu yang secara turun temurun hingga saat masih banyak penganutnya. Penganut Ugamo Malim disebut Parmalim. Dalam ajarannya, dipercayai sebagai Tuhan atau sang pencipta yang disebut Debata Mula Jadi Nabolon.
 FREDDY-TOBASA
Ugamo Malim berpusat di Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti, Tobasasa. Data yang dihimpun dari pengurus pusat Parmalim Monang Naipospos, saat ini ada sebanyak 42 punguan (cabang) dan 6 cabang persiapan yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah penganut mencapai 1.200 KK atau sebanyak 9.000 jiwa.
Tentang Ugamo Malim, menurut Monang adalah agama asli nenek moyang suku Batak zaman dulu. Namun untuk secara terorganisir, mulai dikembangkan saat kejayaan Raja Sisingamangaraja XII yang dianggap sebagai utusan Mula Jadi Nabolon.
“Sebenarnya, Ugamo Malin yang menganut ajaran Habatahon tidak terhitung usianya. Bahkan, sudah ada sebelum Raja Sisingamangaraja XII. Namun baru terorganisir setelah kepemimpinan Raja Sisingamangaraja XII,” ujar Monang Naipospos yang ditemui di Huta Tinggi, Selasa (30/6).
Diterangkan, untuk penataan keagamaan oleh Raja Sisingamangaraja XII mengangkat Raja Mulia Naipospos sebagai pimpinan atau disebut Induk Bolon. Dimana dalam titahnya berpesan agar agama tersebut kelak tetap dijalankan.
Usai kepemimpinan Raja Mulia Naipospos, kemudian mengangkat anaknya Raja Ungkap Naipospos pada  tahun 1955 secara formal. Kemudian, kepemimpinan itu dilanjutkan oleh Raja Manakkok Naipospos sejak tahun 1981 hingga sekarang.
Tentang ajaran agama, menurutnya ada tiga hal yang harus diteladani seorang Parmalim yang disebut Patik ni Ugamo Malim (dalam bahasa Batak lebih kental). Yang pertama Patik Marsuru (menyuruh), yakni pujion Opputta Debata sian nasa roham (memuja Tuhan dari hati yang paling ikhlas). Pasangapon raja haholongi dongan jolma (patuh kepada Raja dan saling menyanyangi sesama manusia). Kemudian Patik Mamiccang(melarang), yakni manakko nasojadi (tidak diperbolehkan mencuri). Selanjutnya, mamunu jolma naso jadi(dilarang membunuh), dang jadi paoto-otohon (dilarang membodoh-bodohi), dang jadi mangaliluhon (dilarang menipu). Yang ketika Patik Paingothon (mengingatkan), yakni Pajongjongon Ugasan Torop (membentuk wajib sosial).
Sedangkan upacara keagamaan yang juga merupakan kewajiban seorang Parmalim ada tujuh, yakni setiap Sabtu wajib beribadah, setiap ujung tahun (menurut kalender Batak) wajib mangan napaet. Awal tahun (Sipaha Sada) mengenang kelahiran Parmalim, Pameleon Bolon (Sipaha Lima), Martutu Aek, Pasahat Tondi, dan MarDebata.
“Ibadah Sabtu di tempat ibadah masing-masing. Contohnya, di Huta Tinggi ini yang merupakan pusat tempat ibadah disebut Bale Pasogit. Sedangkan di cabang disebut Parsantian. Untuk ibadah Mangan Napaet, hal ini merupakan ibadah mengenang atau renungan perjuangan-perjuangan Parmalim dalam mempertahankanHamalimon. Berbentuk puasa dan makan-makanan yang pahit,” katanya.
Monang Naipospos yang merupakan adik dari Raja Manakkok Naipospos menerangkan, untuk ibadah Sipaha Sada, merupakan ibadah mengenang Mula Jadi Nabolon dan kelahiran para Malim.
“Lebih fokusnya pada pembaharuan diri Parmalim itu sendiri tentang bagaimana pembaharuan dirinya selama itu. Jadi, bukan hura-hura atau layaknya merayakan hari ulang tahun. Intinya merenungkan diri,” bebernya.
Khusus ibadah Pelean Bolon, merupakan acara yang paling sakral dalam Ugamo Malim. Ibadah ini merupakan ungkapan syukur atas anugerah yang kita terima dari Mula Jadi Nabolon selama satu tahun berjalan,” terangnya.
Sedangkan ibadah Martutu Aek merupakan ibadah memberikan nama kepada anak yang baru lahir atau disebut Haroanan Tondi Ro. Kemudian ibadah Pasahat Tondi merupakan ritual mengantarkan roh seseorang yang sudah meninggal atau disebut Pasahaton Tondi Lao.
“Untuk ibadah MarDebebata, merupakan ritual atas rasa syukur anugerah yang kita terima. Hal ini merupakan ritual perseorangan. Istilahnya, dilaksanakan baik, tak dilaksanakan juga tidak apa-apa,” bebernya. (bersambung)
http://www.metrosiantar.com/2015/07/01/197238/ugamo-parmalim-pertama-di-tanah-batak-bag1/

Friday, July 3, 2015

Penganut Parmalim & e-KTP

Jangan Persulit Penganut Parmalim Urus e-KTP


Seluruh Pemerintahan di Sumut Kembali Diingatkan
PEMERINTAH Daerah di Sumatera Utara kembali diingatkan agar jangan mempersulit warga penganut aliran kepercayaaan Parmalim, untuk mengurus Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP). Sebab memperoleh e-KTP merupakan hak setiap warga negara yang telah berusia diatas 17 tahun maupun yang telah menikah.
LAPORAN: KEN GIRSANG
Penegasan tersebut kembali dikemukakan Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri (Kapuspen Kemendagri) Reydonnyzar Moenek di Sumedang, Rabu (5/9).
Ia menilai hal ini perlu disampaikan, agar tindakan Pemerintah Kabupaten Kuningan yang menghentikan pembuatan e-KTP pengikut Ahmadiyah di Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, tidak meluas hingga ke daerah-daerah lain. Meski pun alasan penghentian, untuk menjaga kondusifitas, setelah adanya protes sebuah organisasi keagamaan.
“Stateman Sekda (Sekretaris Daerah) Kuningan menghentikan sementara e-KTP, itu sama sekali tidak benar,” ungkap Kapuspen yang setiap saat memberi keterangan kepada para wartawan ini.
Menurutnya, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 2012 tentang administrasi kependudukan, sangat jelas dikemukakan. Bahwa e-KTP merupakan hak semua warga negara yang berdomisili Indonesia. Sama sekali tidak mempersoalkan agama.
“Formulir untuk kolom agama, itu kan hanya boleh diisi dengan salah satu dari enam agama yang diakui negara. Tapi misalnya aliran kepercayaan seperti Parmalim ingin mencantumkan dari salah satunya bisa. Tapi tidak boleh dengan nama aliran kepercayaan tersebut. Karena pilihannya hanya ada hanya enam. Tapi kalau nggak mau, itu bisa dikosongkan kolom tersebut,” ungkapnya.
Oleh sebab dalam kesempatan kali ini, Donny tidak saja hanya mengingatkan Pemkab Kuningan. Namun juga Pemda Sumut, dan sejumlah pemerintah daerah lainnya.
“Karena untuk soal keyakinan, negara tidak bisa ikut campur. Dan kalau pun untuk kolom agama itu dikosongkan, itu hak warga negara tersebut. Itu boleh dan dibenarkan. Tapi kalau diisi diluar enam, tidak boleh. Saya sudah kontak dengan Pemkab, kita sudah ingatkan bahwa itu tidak benar.”
Sementara terhadap masyarakat sendiri, Donny secara khusus juga mengharapkan agar setiap warga masyarakat yang telah cukup usia untuk segera mengurus e-KTP. Alasannya sangat sederhana.
“Karena setiap warga negara (yang usianya telah cukup), itu wajib. Apalagi per 1 Januari 2013 mendatang, e-KTP telah berlaku sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden nomor 67 tahun 2011. Jadi rugi kalau tidak urus e-KTP. Karena basis data semua menggunakan e-KTP,” akhirnya.(jhon)
http://www.posmetro-medan.com/jangan-persulit-penganut-parmalim-urus-e-ktp/

UGAMO MALIM Pameleon Bolon Sipaha 5 2015

Pameleon Bolon Sipaha Lima 28-30 Juni 2015

Ribuan masyarakat umat Parmalim (Suku Batak) mengikuti ritual Sipahalima di Desa Huta Tingggi, Kabupaten Tobasa, Sumut, Senin (29/6/2015). Parmalim merupakan suatu aliran kepercayaan yang berasal dari keturunan Sisingamangaraja XIII, menggelar untuk memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan Debata Mulajadi Na bolon atau Sang Pencipta atas berkah yang diberikan selama setahun.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
http://poltaksirait.blogspot.com/2015/07/pameleon-bolon-sipaha-5-2015.html
Ari Pameleon Sipaha 5 2015

Ugamo Malim Huta tinggi Laguboti

Sunday, May 31, 2015

Parmalim - Menilik Rumah Ibadah Agama Parmalim

Menilik Rumah Ibadah Agama Parmalim



Parmalim diyakini sebagai agama asli suku Batak. Desa Huta Tinggi di Kabupaten Toba Samosir menjadi salah satu pemukiman bagi penganut agama ini. Jika berkunjung ke desa itu, traveler bisa juga melihat rumah ibadah agama Parmalim.

Sumatera Utara menyimpan banyak cerita yang menarik tentang masyarakatnya, dan tentu saja kekayaan adat istiadat dan budayanya. Di sini masih banyak dijumpai penduduk asli memegang teguh adat istiadat serta menjalankan agama dan budaya asli.

Di Desa Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir misalnya. Di sini dapat menjumpai perkampungan yang penduduknya menganut agama Parmalim.

Agama Parmalim memang hanya diakui sebagai aliran kepercayaan di bawah naungan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Namun hingga kini, kepercayaan tersebut tetap terjaga.

Kepercayaan Parmalim cukup unik. Rata-rata penganutnya asli keturunan Batak. Namun, kepercayaan ini mengharamkan penganutnya memakan babi, anjing, maupun darah. Menyantap makanan dari rumah keluarga yang tengah berduka (meninggal dunia) juga diharamkan.

Rumah ibadah Parmalim bernama Bale Pasogit. Ada beberapa ukiran khas Batak di bangunan ini. Di atas bubungan Bale Pasogit terdapat replika tiga ekor ayam.

Masing-masing berwana merah, hitam dan putih. Warna hitam melambangkan kebenaran, putih lambang kesucian dan merah lambang kekuatan atau kekuasaan.

Sumber: detik.com

Parmalim - UGAMO MALIM KEPERCAYAAN ASLI SUKU BATAK

Bangsa suku Batak banyak menganut agama Kristen dan Islam. Tetapi ada sebuah kepercayaan yang dianut sebagai agama asli suku Batak, yakni Parmalim atau disebut juga Ugamo Malim. Ugamo artinya segala sesuatu yang berhubungan dengan alam spiritual (ngolu partondion), sementara Malim artinya suci. Dengan demikian, Ugamo Malim adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan alam spritual yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip kesucian.
Orang Batak mempunyai konsepsi bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Debeta Mula Jadi Na Balon. Dia bertempat tinggal di atas langit dan mempunyai nama-nama sesuai dengan tugas dan kedudukanya. Bagi suku Batak yang menganut ajaran Parmalim, Debeta Mula Jadi Na Balon adalah maha pencipta manusia, langit, bumi dan segala isi alam semesta.
Sejak dahulu kala terdapat beberapa kelompok Parmalim. Tetapi kelompok terbesar adalah kelompok Malim yang berpusat di Huta Tinggi, Toba Samosir. Hari Raya utama Parmalim disebut SiPaha sada yang dilaksanakan pada bulan Pertama, serta SiPaha lima yang dilaksanakan pada bulan Kelima dalam Kalender Batak. Upacara ini secara meriah dirayakan di kompleks Parmalim di Huta Tinggi.
Penganut Parmalim yang disebut dengan Umat Ugamo Malim menyembah Debeta Mula Jadi Na Balon. Setiap setahun sekali mereka melakukan ritual keagamaan yang amat sakral, yakni Pamaleaon Bolon Sipaha Lima di Huta Tinggi. Ritual ini dilaksanakan sebagai tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Pencipta Mula Jadi Na Bolon atas apa yang telah diberikan. 
Kepercayaan ini mengharamkan penganutnya memakan babi, anjing, maupun darah. Menyantap makanan dari rumah keluarga yang tengah berduka (meninggal dunia) juga diharamkan. Kepercayaan ini juga mengharuskan penganutnya menyayangii seisi alam, yakni sesama manusia, hewan, dan tumbuhan.
Rumah ibadah Parmalim adalah Bale Pasogit. Tempat ini dianggap oleh mereka sebagai tempat yang suci dan sakral. Bale Pasogit terdiri dari empat bangunan utama yakni Bale Partonggoan (balai doa), Bale Parpitaan (balai sakral), Bale Pangaminan (balai pertemuan), dan Bale Parhobasan (balai pekerjaan dapur)
Terdapat tiga pribadi leluhur di tanah Batak yang dianggap sebagai Malim, yaitu yakni Raja Uti, Simarimbulubosi dan Raja Sisingamangaraja XII. Raja Sisingamangaraja ini dianggap oleh penganut Parmalim sebagai nabi atau rasul Tuhan yang bertugas menyebarkan patik dan ajaran hamalimon dari Mulajadi Nabolon. Raja Sisingamangaraja kala itu menolak kolonialisme Belanda, dan mengajarkan tentang sebuah perjuangan.
Adapun kitab suci yang dimiliki Ugamo Malim adalah Pustaha Habonaron yang berfungsi sebagai pengatur dan tata laku manusia dalam berhubungan dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia. Kitab ini sebagai panutan manusia, juga sebagai nilai dalam menjalankan prinsip-prinsip kesucian. Kitab ini bersendikan pada Mar Patik sebagai bagian dari Si Sia-Sia Ni Habatahon. 
Dalam kepercayaan ini, pemimpin agamanya disebut Ihutan Bolon. Sementara penganutnya disebut ruas, dan orang yang mewakili penganut dari setiap daerah disebut Ulupunguan. Ihutan bertanggung jawab atas pelaksanaan upacara keagamaan. Dia memimpin doa ritus atau disebut juga dengan tonggo-tonggo dalam upacara keagamaan Parmalim. Dalam sabda Tuhan Parmalim pada upacara tersebut, Ihutan menyampaikan bahwa bila manusia ingin berhubungan dengan  penghuni benua atas, harus ada sesaji yang bersih. Begitu pula manusia yang memberikan sesaji itu harus bersih. Sabda atau Tona ini menjadi pedoman bagi pengikut Ugamo Malim.
Sumber: kebudayaanindonesia.net

Parmalim - Mengenal Kepercayaan Asli Suku Batak

Mengenal Kepercayaan Asli Suku Batak 


13036227842105621885Sebelum Kristen dan Islam masuk ke tanah batak abad 19, jauh sebelumnya sudah ada kepercayaan yang di anut orang-orang batak sebagai sebuah agama yang menjadi landasan hidup mereka.
Kepercayaan asli orang batak ini di sebut “Parmalim” atau ” Ugamo parmalim” (Agama parmalim).  Keyakinan yang mereka pegang mengandung nilai-nilai religius yang luhur dan mulia, yaitu kehidupan yang harmonis dengan sesama manusia dan kepada sang pencipta.

Asal muasal kata “Parmalim” adalah dari kata “malim” yang artinya kesucian serta hidup untuk saling mengayomi dan memuliakan OPPU NAMULA JADI NA BOLON atau debata (Tuhan pencipta langit dan bumi).   Jadi Parmalim adalah orang-rang yang mengutamakan kesucian hidup.
Mereka menyembah OPPU NA MU JADI NABOLON, siapakah Dia ini dalam kepercayaan parmalim?  Dia adalah Tuhan pencipta alam semesta yang tak berwujud, dan manusia tidak bisa bertemu dengannya.  Jadi untuk menghubungkan manusia dengan pencipta itu, maka di utus seorang parhitean (perantara) yaituRaja Sisingamangaraja yang juga di kenal dengan Raja Nasiak Bagi.  Raja Nasiak Bagi merupakan sebutan terhadap kesucian (Hamalimon) dan juga semua jasa-jasanya hingga akhir hayatnya dalam mengayomi bangsa batak.  Nasiak Bagi juga sudah di takdirkan untuk hidup menderita dan dia tidak kaya tetapi sama miskinya dengan rakyatnya, baginya hidup adalah pengorbanan.
Ritual agama Parmalim

Saat ini pusat agama parmalim terbesar ada di desa Hutatinggi, sekita 4 km dari kecamatan lagu boti kab.Toba Samosir.  Saat ini penganut Parmalim mencapai sekitar 7.00 orang yang tersebar di 39 tempat di seluruh indonesia.
Seperti agama-agama lain, parmalim juga memiliki rumah Ibadah yang disebut Bale Pasogit.  Parmalim tidak memakan daging babi dan anjing serta mengharamkan darah untuk di makan.  Mereka juga beribadah hari sabtu dan hari itu merupakan hari keramat bagi mereka sehingga tidak boleh bekerja dan bepergian jauh di hari sabtu.   Disamping itu mereka juga mempercayai 44 nabi yang menjadi utusan agama-agama lain.

Parmalim  memiliki 2 peringatan besar tiap tahun yaitu Sipaha sada dan Sipaha lima.  Sipaha sada adalah tahun baru batak, yang dimulai bulan maret dan Sipaha lima dilakukan saat bulan purnama antara bulan juni dan juli.
Penganut parmalim juga sangat mencintai lingkungan dan alam ciptaan Tuhan.  Mereka di larang menebang pohon, namun jika harus menebang pohon mereka harus menggantinya dengan menanam tunas baru.  Mereka juga tidak boleh merusak tunas baru yang masih kecil, dengan demikian mereka sangat menjaga kelestarian alam dan lingkungan kehidupan.
Persepsi yang salah dan diskriminasi terhadap parmalim
Bagi orang yang tidak mengenal parmalim dengan baik, mereka selalu di cap sebagai “Sipele begu” (penyembah setan).  Padahal sesungguhnya mereka menyembah OPPU NA MULA JADI NA BOLON (Tuhan pencipta alam semesta).  Akibat salah persepsi itu tidak jarang mereka di jauhi dan di benci serta dianggap sesat.

Disamping itu pemerintah juga turut berperan menyudutkan parmalim ini, dengan cara tidak mengakui keberadaan mereka, sehingga dalam mengurus administrasi kependudukan mereka mengalami kesulitan seperti membuat akte lahir, akte nikah dan KTP.  Hal ini menyebabkan banyak diantara mereka yang tidak memiliki administrasi kependudukan.  Dalam pembuatan KTP kolom agama di kosongkan, hal ini menyulitkan mereka untuk mencari pekerjaan dan juga bersekolah.
Dengan demikian Umat Parmalim merasa bahwa mereka belum merdeka dari penjajahan, sebab kebebasan mengeskpresikan keyakinan mereka terhambat oleh pemerintah.  Seharusnya pemerintah mengayomi kepercayaan yang mereka telah anut turun-temurun dari nenek moyang mereka jauh sebelum indonesia ada.

Kata-kata Bijak Parmalim
Kata-kata bijak parmalim ini merupakan inti dari kepercayaan mereka yang luhur yaitu:
“Marpangkirimon do namangoloi jala na mangulahon patik ni debata, jala dapotna do sogot hangoluan ni tondi asing ni ngolu ni diri on” artinya
(”Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran/hukum Tuhan dan melakukanya dalam hidupnya akan memiliki pengharapan kelak.  Ia akan mendapatkan kehidupan roh suci dan kekal”)

Sumber : sosbud.kompasiana.com/

Parmalim - TENTANG PARMALIM DAN AGAMA MALIM

TENTANG PARMALIM DAN AGAMA MALIM


Bangunan Pusat Agama Malim di Huta Tinggi Laguboti Toba Samosir (Foto: Petrus M. Sitohang)

Pengantar:
Hanya sedikit diantara kita, termasuk orang Batak sekalipun, yang mengenal komunitas Parmalim, sebuah komunitas masyarakat Batak Toba (sebagian besar) yang menjalankan kepercayaan asli dan berakar pada kebudayaan Batak. Mereka meyakini Sisingamangaraja sebagai salah seorang nabi, penerima wahyu dari Tuhan yang mereka sebut Mula Jadi Nabolon.
Salah satu yang tidak banyak diketahui orang tentang Agama Malim ini adalah mereka berpantang memakan daging babi dan makanan yang mengandung darah. Selain itu mereka juga dilarang untuk menebang kayu di hutan sembarangan.
Bulan April 2009 saya berkesempatan mengunjungi pusat Agama Malim di Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti Kabupaten Tobasa dan bertemu langsung dengan Raja Ihutan (gelar pemimpin tertinggi agama Parmalim) Raja Marnangkok Naipospos, dan saudaranya Monang Naipospos yang adalah salah satu tokoh intelektual Parmalim yang paling aktif menulis dan menjadi semacam kepala bidang hubungan dengan masyarakat luar Agama Parmalim, dan yang dalam Pemilu Legislatif tahun 2009 yang lalu terpilih menjadi salah seorang aggota DPRD Kabupaten Toba Samosir.
Tulisan berikut ini adalah kutipan langsung dari web resmi Agama Malim yaitu www.parmalim.com atas seijin dari Monang Naipospos.


HAMALIMON BATAK

Hubungan dengan Mulajadi Nabolon disebut “Ugamo” inti ajaran dalam menjalankan hubungan itu disebut “Hamalimon”.
Pengertian “Malim” ada dua bagian: “Malim” sebagai sifat dasar yang dituju, berawal dari “Haiason” dan “Parsolamon”. Yang kedua adalah “Malim” sebagai sosok pribadi.

Haiasaon diartikan kebersihan. Kebersihan fisik dan rohani. Parsolamon diartikan membatasi diri dari menikmati dan bertindak.

Ada beberapa pribadi leluhur di tanah batak yang dianggap sebagai Malim, yakni Raja Uti, Simarimbulubosi dan Sisingamangaraja.

Mereka menganjurkan panyampaian persembahan kepada Mulajadi Nabolon yang disebut Pelean Debata “na ias jala malim” bersih dan suci. Pelaksanaannya diawali dari pribadi (keluarga) seperti penyampaian “patumona ni naniula” kegiatan se kampung yang merupakan klan dalam satu parsantian.
Biasanya kumpulan satu rumpun keluarga semarga termasuk boru dan paisolat (pendatang). Persembahan suci sebagai ucapan syukur kepada Mulajadi Nabolon dilakukan pada Upacara Bius dengan persembahan kerbau yang disebut Horbo Santi atau Horbo Bius.
Horbo Santi, seekor kerbau (sitingko tanduk siopat pusoran) pilihan bertanduk bulat dan empat pusar. Kerbau ini dipelihara berbulan-bulan sebelum dipersembahkan. Kerbau ini bila masuk kehalaman orang, dianggap anugerah, bila masuk ke kebun tidak didenda.

HARAJAON BATAK
Raja Uti dikenal menerima amanah mengajarkan Hamalimon dan pola penyembahan terhadap Mulajadi Nabolon. Beliau juga menerima amanat “Harajaon” pertama sekali di tanah Batak walaupun tidak dilakukan secara terlembaga. Raja Uti dianugerahi Mulajadi Nabolon “Mula ni Harajaon na marsuhi ni ampang naopat”.
Suhi ni ampang naopat menjadi dasar konsep kelembagaan masyarakat, harajaon dan paradatonHarajaon Biusyang kemudian dikembangkan Sisingamangaraja selalu mengacu kepada empat orang Raja utama. Mereka disebut PargomgomPangumeiPartahi dan Namora. Keempat Raja ini dilengkapi perangkat tambahan yang penyebutannya berbeda di masing-masing bius, seperti parmaksipartingtingnabegu dll. Untuk menghindari adanya kasta diantara mereka sering juga disebut Raja Naualu. Keempat Raja tadi lazim juga disebut Raja Naopat atau Raja Maropat. Raja Bius juga disebut Raja Parbaringin. Konsep ini sudah lama di tanah Batak sebelum mengenal raja Merampat di Aceh, karena kebetulan saja sama. Sering peneliti menyatakan Sisingamangaraja meniru konsep ini dari Aceh.
Sisingamangaraja menerima wejangan dari Raja Uti untuk pelaksanaan amanah “maningahon” harajaon, patik, uhum, hamalimon. Harajaon “na marsuhi ni ampang naopat” tetap menjadi landasan pelaksanaannya.
Otonomi dinikmati masyarakat. Beliau tidak menjadi raja untuk kekuasaan sentral. Demokrasi Batak dibangun dan dipelihara. Tujuan ketakwaan kepada Mulajadi Nabolon dipenuhi, hormat kepada pemimpin masyarakat (pantun marraja) dan sayang terhadap sesama manusia.
Bius dibenahi menjadi Dewan Pertimbangan Kebijaksanaan yang dilakukan oleh HutaBius diwajibkan memenuhi syarat memiliki “onan” untuk bursa ekonomi rakyat dan berfungsi ganda meliputi pelayanan kesehatan dan pelayanan pertimbangan hukum. Di onan juga disediakan area “partungkoan” para pemimpin “raja-raja” bius, hutadan perangkatnya.

Onan adalah pekan atau pasar. Onan dibentuk sebagai persyaratan ini menjadi bius. Ada hukum di onan yang disebut, osos hau tanggurung tongka masipaurakan. Bila terjadi persenggolan tidak boleh bersengketa. Onandijaga oleh seorang pendekar partigabolit menjamin keamanan. Di Onan dilakukan mediasi permasalahan hukum oleh para Raja Bius dan juga Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat oleh Sibaso dan Tiang Aras.
Bius juga melakukan “Pardebataon” minimal sekali dalam satu tahun yakni peyampaian persembahan kepadaMulajadi Nabolon atas limpahan rejeki hasil panen yang diberikan.

Agamanya (Ugamo?) ada pada tatanan keteraturan, kedamaian dan ketakwaan kepada Mulajadi Nabolon dengan mempedomani syarat Hamalimon. Sistem ini yang kemudian dikenal dengan Harajaon Malim.


MASA KRISIS

Sisingamangaraja XI sudah melihat adanya ancaman kemerosotan kepercayaan yang tumbuh sejak lama di tanah Batak. Dampak dari serangan padri sangat terasa dalam perubahan moral dan perekonomian. Tatanam kemasyarakatan, adat, patikuhumharajaon, dan hamalimon terancam punah.
Pada era Sisingamangaraja XII pergolakan di Tanah Batak semakin keruh, pembangkangan semakin banyak, keberpihakan kepada penjajah dan misi baru semakin deras. Dulunya para Raja Bius Parbaringin yang sangat mendukung Raja Sisingamangaraja XII menentang penjajahan mulai merosot. Diantara kerabat para raja tradisional itu ada yang diangkat kolonial menjadi raja versi mereka. Para raja angkatan penjajah ini melakukan pendekatan dan penekanan kepada para Raja Parbaringin dan para pejuang pro Sisingamangaraja XII untuk melenturkan peranannya.

Pada suatu ketika, Raja Sisingamangaraja XII membuat maklumat bahwa beliau sakit. Para Raja Bius menjadi pesimis, tidak seorangpun menjenguk beliau. Pada saat itu Raja Mulia Naipospos Raja Parbaringin dari Bius Laguboti berangkat menuju Bakkara. Ternyata Raja Sisingamangaraja XII sehat walafiat. Kepada Raja Mulia dipaparkan ancaman yang akan datang dan semakin lemahnya dukungan perjuangan menentang penjajahan.

Hamalimon dalam Habatahon itu akan pupus bila dibiarkan tanpa pertahanan. Sisingamangaraja XII menyusun strategi lebih tegas dalam bentuk aksi. Raja Mulia memegang teguh peranannya untuk tidak muncul sebagai sosok perlawanan anti kolonial, sehingga lebih didekatkan kepada Missionaris Nommensen di Sigumpar. Ini merupakan pengkaderan secara terselubung agar tidak segera dipatahkan oleh gerakan misi kristen dan penjajah.
Guru Somalaing Pardede melakukan aksi pengorganisasian hamalimon. Sisingamangaraja XII sebelumnya lebih mempercayainya sebagai penasehat perang. Ajaran Guru Somalaing makin mengkristal. Sebelumnya Raja Sisingamangaraja XII sudah mengetahui ajarannya ada dipengaruhi kepercayaan Romawi oleh Modigliano dengan penambahan tokoh spiritual Patuan Raja Rum, dan tidak mendapat restu. Gerakan spontan ini mengakibatkan beliau ditangkap dan dibuang.
Setelah Raja Sisingamangaraja XII diumumkan gugur 17 Juni 1907 dalam perjuangan melawan penjajah, tanah batak berduka, ada yang pesimis dan ada yang optimis. Yang pesimis mengikuti jejak penjajah, dan yang optimis tetap melakukan perjuangan mempertahankan hak dan kebebasan.


PELEMBAGAAN UGAMO MALIM

Ugamo diartikan suatu kumpulan orang yang melakukan aksi membentuk hubungan dengan Penciptanya. Raja Mulia yang menerima amanah sedikit ragu atas kemampuannya, hingga beliau ditemui oleh seorang sosok yang kumal. Beliau menagih janji untuk melembagakan hamalimon yang disebut UGAMO MALIM. Ketika Raja Mulia hendak mengucapkan kata pernyataannya siapa diri yang menemuinya, beliau spontan menghentikan dan mengenalkan diri “Nasiakbagi” tidak memiliki harajaon, dan harta benda serta kampung halaman.
Raja Mulia bersedih, karena harus memperkenalkannya “sahabatnya” (didepan umum disebut sahabat, namun dalam pengakuannya adalah sebagai guru, raja dan MALIM) seperti, marga Simatupang, teman pedagang, teman main judi dan lain sebagainya. Para pengikutnya menyebut Nasiakbagi lebih terhormat menjadi “Raja Nasiakbagi”. Apa yang diamanatkan Sisingamangaraja XII sebelumnya itu juga dituntut pelaksanaannya.
Munculnya Raja Nasiakbagi semakin menguatkan keyakinan Raja Mulia Naipospos akan pesan yang telah diamanatkan Raja Sisingamangaraja sebelumnya. Raja Nasiakbagi menyerahkan konsep pengorganisasian dan ajaran Ugamo Malim sesuai dengan apa yang diterimanya dari Raja Sisingamangaraja. Raja Nasiakbagi selalu menolak apabila dirinya dianggap sosok Raja Sisingamangaraja XII ataupun penjelmaannya. Beliau selalu mengatakan bahwa Sisingamangaraja sudah berada disisi Mulajadi Nabolon.
Gayus Hutahaean dengan semangatnya menyebarkan informasi bahwa Raja Sisingamangaraja XII hidup dan jalan bareng dengan Raja Mulia Naipospos menyebabkan dia ditangkap pemerintah Belanda dan dibuang. Sejak itu tidak ada yang berani membicarakan Raja Sisingamangaraja.
Penjajah dan kroninya mencurigai langkah Raja Mulia dan sosok “Nasiakbagi” dan melakukan fitnah dan pengejaran. Raja Mulia dipenjara beberapa kali karena tidak menyebut siapa sebenarnya yang menyebut dirinya Nasiakbagi itu. Setelah melihat pola pengajaran dan pengorganisasian yang dilakukan Raja Mulia sudah mapan, akhirnya “Raja Nasiakbagi” meninggalkannya.
Tantangan dan kekerasan banyak dihadapi selama mengembangkan Ugamo Malim. Berbagai tudingan dan sebutan dilontarkan tidak dijawab. Ada yang menyebut mereka sama dengan kelompok Parhudamdam, ada yang menyebut Parsitengka ada yang menyebut Agama Sempalan dari berbagai Agama, ada yang menyebut Animisme, ada yang menyebut Sipelebegu atau Pelbegu. Sebagian lagi menyebut mereka Parugamo, dan ada yang menyebut Parsiakbagi. Semua sebutan itu tidak dibantah, karena mereka yang berkuasa saat itu lebih dominan diterima publik. Ada kepentingan mereka untuk memberikan stigma buruk kepada kelompok ini agar tidak ada yang mengikuti atau bila mungkin ditinggalkan para pengikutnya.Karena mereka adalah par-Ugamo Malim maka lebih lajim disebut menjadi Parmalim.

Mereka sering dipaksa memberikan sumbangan pembangunan gereja. Pernah mezbah persembahan Parmalim di Hatinggian dirampas dan dirobohkan atas perintah Raja Ihutan yang diangkat Penjajah. Pemerintah kolonial akhirnya memberi izin kepada Kelompok Parmalim yang dipimpin Raja Mulia Naipospos untuk mendirikan BALE PASOGIT tempat peribadatan di Hutatinggi yang dikeluarkan controleur van Toba tahun 1921.


STRATEGI PENGEMBANGAN
Raja Sisingamangaraja dan raja Nasiakbagi menanamkan motto bagi para pengikutnya untuk menerima perkembangan tanpa mengorbankan nilai spiritual Batak. Motto ini dikenal dengan : Parbinotoan Naimbaru, Ngolu Naimbaru, Tondi na marsihohot.

Parbinotoan Naimbaru: Menerima perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi demi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ngolu Naimbaru: Menerima perkembangan jaman untuk meningkatkan kesejahteraan dan peradaban, tanpa melanggar etika sosial sesuai tuntunan ajaran Ugamo Malim.

Tondi na Marsihohot: Tetap bertaqwa kepada Tuhan Debata Mulajadi Nabolon melalui ajaran Sisingamangaraja - Raja Nasiakbagi tanpa dipengaruhi ajaran keyakinan agama lain.

Parmalim menyongsong masa depan, tak pernah surut melakukan pedoman dan ajaran yang dianut walau mengalami banyak hambatan external dan internal. Para tokoh Parmalim menolak mengikuti pendidikan mission kepada anak-anaknya karena harus dibaptis kristen. Raja Mulia harus menjalankan amanah, pendidikan harus dilakukan. Anak tunggalnya Raja Ungkap disekolahkan ke sekolah independent yang dikelola pendidikan Inggeris di Tambunan yang berbasis di Singapura. Tidak diwajibkan menganut agama tertentu.
Semula Raja Ungkap dianggap para tokoh Parmalim akan menjadi lawan setelah menerima pendidikan modern dan pergaulan dengan orang asing. Raja Mulia sebelumnya banyak menerima hujatan dari para rekan seperjuangannya karena masalah pendidikan itu.Raja Ungkap membuktikan sebaliknya. Walau tidak terlalu mulus, beliau mendirikan Sekolah Parmalim (Parmalim School) tanggal 1 November 1932. Sejak itu banyak anak Parmalim mendapatkan pendidikan.

Penganut Agama Batak tempo dulu banyak ditarik menjadi Kristen melalui pendidikan yang dikelola mereka. Pada umumnya para Parbaringin tidak setuju dengan pengorganisasian Ugamo Malim (Parmalim) akhirnya terlindas dengan jaman. Dengan dibukanya sekolah Parmalim generasi baru dibangun. Inilah sejarah awal dimulainya Parmalim baru yang lebih cerdas. Pendidikan misi Kristen tidak memberi pengaruh pencerdasan generasi Parmalim yang ada saat itu dan sekarang.

Raja Mulia Naipospos menyerahkan tahta kepemimpinnan kepada putra tunggalnya Raja Ungkap Naipospos pada tahun 1956. Raja Ungkap sebelumnya sudah mengalami pahit getir penggemblengan diri dari Raja Mulia ayahandanya sendiri. Raja Ungkap adalah generasi kedua dan pertama sekali menerima pendidikan sekolah. Beliau menguasai Bahasa Inggeris, Belanda dan Jepang.
Dengan berpedoman kepada prinsip parbinotoan naimbaru (ilmu pengetahuan baru), ngolu naimbaru (hidup lebih sejahtera) tondi na marsihohot (kepercayaan yang teguh), beliau melanjutkan apa yang telah dibentuk dan dirintis Raja Mulia.

Beliau juga memimpin misi penguatan ajaran Ugamo Malim bagi para pemeluknya yang berpusat di Sait Ni Huta, Uluan. Gerakan itu juga meningkat hingga mencari peluang kehidupan yang lebih baik dengan gerakan manombang. Mereka mencari peluang kehidupan baru di daerah Sumatera Timur – Simalungun tepatnya daerah Bah Jambi. Disana berdiri sebuah perkampungan khusus untuk Parmalim dan disebut Kampung Malim. Sejak itu, Parmalim menyebar dari Toba ke daerah subur Sumatera bagian Timur.Langkah itu, telah memperkuat kesatuan (kelembagaan), kemandirian, kedamaian, dan kekuatan iman Parmalim.

Pendidikan dan pemanfaatan peluang kehidupan, kewirausahaan bukan ajaran baru bagi Parmalim yang sampai saat ini sudah banyak menghasilkan SDM dan berperan di berbagai kegiatan, pemerintahan maupun swasta.

Masyarakat umum tidak dapat lagi mengenal Parmalim dalam pandangan yang kaku seperti sosok dukun, berjambang, makan sirih, pakai tongkat, ikat kepala, pakai ulos, bau kemenyan, ahli nujum dan lusuh. Image itu sejak lama dipraktekkan kelompok tertentu dan menganggap Parmalim merupakan obyek yang perlu diselamatkan dan digiring kehadapan Tuhan menurut cara mereka. Sampai saat ini pemahaman ini masih ada, dan sejak masa pembentukan wujud Parmalim yang lebih maju dan mandiri itu, sebaliknya masih banyak orang menganggap Parmalim sudah punah.
Pernah sekelompok mahasiswa Sekolah tinggi Agama dari Tarutung berkunjung ke Pusat Parmalim di Hutatinggi. Mereka berpikir akan berhadapan dengan sosok manusia berjambang, makan sirih, pakaian serba hitam, bau kemenyan dan asesori rumah tinggal dipenuhi patung-patung berhala dan tunggal panaluan. Katanya itu dari refrensi mata kuliah mereka.

Berfoto bersama di depan bangunan baru Bale Pasogit Agama Malim di Huta Tinggi Laguboti Toba Samosir bersama (dari kiri ke kanan): Monang Naipospos, Petrus Sitohang, Bonar Siahaan dan Haji Imran Napitupulu (Foto: Hasudungan Rudy Yanto Sitohang).

Sumber : sitohangdaribintan.blogspot.com

Adsense