Blessed Love

Poltak Sirait Blog

The Siraits

Poltak Sirait Blog

Parhobas

Sosialisasi Perundang-undangan Kebudayaan

Brothers in Law

Poltak Sirait Blog

My Beloved Daddy

Your Blessing upon me always

Pages

Showing posts with label Habatahon. Show all posts
Showing posts with label Habatahon. Show all posts

Saturday, April 16, 2016

Mengenal Parmalim

Mengenal-kepercayaan-parmalim-di-tanah-batak



Revisi : Ras                        = Ruas
              Ibadah tahunan = Sipaha Sada (Pangharoanan Ari Hatutubu Ni Tuhan Simarimbulubosi) dan Sipaha Lima (Pameleon Bolon

Sunday, May 31, 2015

Habatahon - Pernikahan Cicit Sisingamangaraja ke 12 Dan Suksesi Ratu Beatrix Dari Belanda

Pernikahan Cicit Sisingamangaraja ke 12 Dan Suksesi Ratu Beatrix Dari Belanda

Raja Sisingamangaraja XII
Raja Sisingamangaraja XII

Jakarta, 29 Januari 2013 (KATAKAMI.COM)  —  Tak ada yang tak tahu nama Raja Sisingamangaraja di Indonesia ini. Khususnya warga Tapanuli, semua pasti tahu dan pernah mendengar nama Raja Sisingamangaraja ke 12.
Sisingamangaraja XII (lahir di Bakara, 18 Februari 1845 – meninggal di Dairi, 17 Juni 1907 pada umur 62 tahun) adalah seorang raja di negeri Toba, Sumatera Utara, pejuang yang berperang melawan Belanda.
Kemudian diangkat oleh pemerintah Indonesia sebagai Pahlawan Nasional Indonesia sejak tanggal 9 November 1961 berdasarkan SK Presiden RI No 590/1961.
Sebelumnya Sisingamangaraja di makamkan di Tarutung, lalu dipindahkan ke Balige.
Ia juga dikenal dengan nama Raja Patuan Bosar Ompu Pulo Batu, naik tahta pada tahun 1876 menggantikan ayahnya Sisingamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon, selain itu ia juga disebut juga sebagai raja imam.
Penobatan Sisingamangaraja XII sebagai maharaja di negeri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy (politik pintu terbuka) Belanda dalam mengamankan modal asing yang beroperasi di Hindia-Belanda, dan yang tidak mau menandatangani Korte Verklaring(perjanjian pendek) di Sumatera terutama Kesultanan Aceh dan Toba, di mana kerajaan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya.
Di sisi lain Belanda sendiri berusaha untuk menanamkan monopolinya atas kerajaan tersebut. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan Perang Tapanuli yang berkepanjangan hingga puluhan tahun.
 
Ir. Raja Tonggo Tua Sinambela (TONGGO) , cicit kandung Raja Sisingamangaraja ke 12
 Silsilah Raja Sisingamangaraja dari urutan 1 sampai ke 12 adalah sebagai berikut :
Singamangaraja II, Ompu Raja Tinaruan
Singamangaraja III, Raja Itubungna.
Singamangaraja IV, Tuan Sorimangaraja.
Singamangaraja V, Raja Pallongos.
Singamangaraja VI, Raja Pangolbuk,
Singamangaraja VII, Ompu Tuan Lumbut,
Singamangaraja VIII, Ompu Sotaronggal
Singamangaraja IX, Ompu Sohalompoan,
Singamangaraja X, Ompu Tuan Na Bolon
Sisingamangaraja XI, Ompu Sohahuaon
Sisingamangaraja XII,  Raja Patuan Bosar Ompu Pulo Batu
Khusus untuk Raja Sisingamangaraja ke 12, sepanjang ia bergerilya di masa penjajahan Belanda, 3 anaknya ikut mendampingi yaitu Raja Patuan Anggi Sinambela, Raja Patuan Nagari Sinambela dan Putri Lopian Sinambela.
Ketiga anaknya tewas di tangan tentara Belanda.
Tetapi Raja Sisingamangaraja memiliki anak yang masih hidup yaitu Raja Karel Buntal Sinambela, inilah yang disebut sebagai Raja Sisingamangaraja ke 13.
Raja Karel Buntal Sinambela memiliki seorang anak lelaki yang diberi nama Raja Patuan Sori Sinambela, inilah yang disebut sebagai Raja Sisingamangaraja ke 14.
Dari hasil pernikahannya dengan Maria Magdalena boru Pasaribu (putri bungsu dari pasangan Somuntul Bungajalan Pasaribu yang bergelar Tuan Sariburaja dan Tamelan boru Naibaho), Raja Patuan Sori Sinambela memiliki 2 anak.
Anak pertamanya perempuan, diberi nama Saur Sinar Romauli boru Sinambela.
Anak kedua dari Raja Patuan Sori Sinambela adalah lelaki, yang diberi nama Raja Tonggo Tua Sinambela.
Raja Tonggo Tua Sinambela inilah yang kemudian meneruskan dinasti Sisingamangaraja dengan menempati urutan 15 dalam monarki “tanpa kerajaan’ dari dinasti Sisingamangaraja.
Raja Tonggo Tua Sinambela lahir di Medan, 24 Desember 1972.
Ayahnya, yaitu Raja Patuan Sori Sinambela, wafat seminggu sebelum kelahiran Raja Tonggo Tua Sinambela, pada tanggal 18 Desember 1972 akibat kecelakaan lalulintas.
Pada hari Sabtu, 26 Januari 2013 lalu, cicit kandung Raja Sisingamangaraja ke 12 ini melangsungkan pernikahannya dengan kekasihnya, Rista boru Sitorus.

Ratu Beatrix dari Kerajaan Belanda, kanan, bersama Pangeran Willem Alexander
Ratu Beatrix dari Kerajaan Belanda, kanan, bersama Pangeran Willem Alexander

Dua hari sebelum pernikahan cicit kandung Raja Sisingamangaraja berlangsung, atau tepatnya pada hari Kamis (24/1/2013) Ratu Beatrix dari Kerajaan Belanda mengumumkan bahwa tidak lama lagi dia akan pensiun sebagai pemimpin monarki Belanda. Posisi dia sebagai kepala negara akan diganti oleh putranya, Pangeran Willem-Alexander.
Menurut kantor berita Reuters, Ratu Beatrix menyatakan sudah saatnya turun tahta setelah lebih dari tiga puluh tahun berada di singgasana kerajaan. Kini, lanjut dia, tampuk kepemimpinan harus diberi kepada yang muda.
“Saya mundur bukan karena tugas yang diemban terlalu berat, namun sudah saatnya tanggung jawab memimpin bangsa ini diserahkan kepada generasi muda,” kata Beatrix dalam pernyataan di Amsterdam pada Kamis (24/1/2013) waktu setempat.
Maka, Ratu yang Kamis esok genap berusia 75 tahun itu sudah menunjuk Putra Mahkota Pangeran Willem-Alexander sebagai penggantinya. Pergantian akan berlangsung 30 April mendatang. “Dia bersama Putri Maxima sudah sangat siap mengemban tugas di masa depan,” lanjut Beatrix.
Willlem-Alexander beristrikan Putri Maxima, yang berasal dari Argentina. Mereka telah dikaruniai tiga anak.
Apa hubungan antara pernikahan cicit kandung Raja Sisingamangaraja ke 12 dengan suksesi di Kerajaan Belanda ?
Ada hubungannya …
Sangat ada …
Cicit kandung Raja Sisingamangaraja ke 12 atau Raja Tonggo Tua Sinambela mempunyai harapan besar dan misi khusus kepada Kerajaan dan Pemerintah Belanda.
Tonggo, demikian Raja Tonggo Tua Sinambela biasa dipanggil, sangat menginginkan adanya pengembalian seluruh dokumen, buku dan barang-barang pribadi milik Raja Sisingamangaraja ke 12 yang dirampas dan disita dari Istana Sisingamangaraja di daerah Bakara, Tapanuli.
“Tentara Belanda membumi-hanguskan Kerajaan Opung (kakek) di Bakara sekitar tahun 1887. Diserbu dan dibakar. Tapi kemudian istana itu dibangun kembali. Kalau tidak salah sekitar 10 tahun kemudian, Belanda datang lagi menghancurkan Istana itu. Semua yang ada di Istana diambil. Yang paling penting adalah semua surat, buku-buku dan pustaka-pustaka yang diwariskan oleh Raja Sisingamangaraja ke XI kepada Sisingamangaraja ke XII” kata Raja Tonggo Tua Sinambela kepada KATAKAMI.COM, Selasa (29/1/2013).
Tonggo ingin Kerajaan dan Pemerintah Belanda memberikan perhatian yang serius mengenai masalah pengembalian barang-barang pribadi milik kakeknya.
“Raja Sisingamangaraja ke XII adalah opung aku. Aku mau, kami sebagai keluarga yang menyimpan semua barang-barang pribadi yang dimiliki oleh Raja Sisingamangaraja ke 12. Belanda tidak punya hak menyimpan dan menguasai semua barang-barang milik opung kami. Sejak kematian Raja Sisingamangaraja ke 12 tanggal 17 Juni 1907 sampai detik ini, tidak ada satupun dari pihak Keluarga yang dihubungi atau bahkan didatangi oleh pihak Belanda. Baik untuk permohonan maaf ataupun untuk mengembalikan semua barang-barang pribadi milik Raja Sisingamangaraja ke 12″ lanjut Raja Tonggo Tua Sinambela.
Lalu, bagaimana jika satu waktu nanti semua barang-barang pribadi — khususnya semua surat, dokumen dan pustaka pribadi milik Raja Sisingamangaraja ke 12 — bisa diserahkan kepada ahli waris Raja Sisingamangaraja ke 12 ?
Tonggo sudah mengantisipasi hal tersebut.
“Aku sudah mendirikan sebuah yayasan yaitu Yayasan Forum Sisingamangaraja ke 12. Di Soposurung yaitu di Komplek Pemakaman Opung Sisisngamangaraja ke 12, ada rumah besar untuk kami huni jika datang ke sana. Disitu, bisa didirikan sebuah museum. Aku ingin satu waktu nanti kami bisa mendirikan Museum Raja Sisingamangaraja ke 12. Sekarang belum bisa didirikan karena semua barang-barang pribadi Opung dirampas oleh Belanda” ungkap Raja Tonggo Tua Sinambela.

Yang menewaskan Sisingamangaraja XII : Foto tahun 1907. Tentara Belanda mengejar Sisingamangaraja XII di kawasan hutan Tele. Dipimpin Hans Christoffel (memegang tongkat), mereka berpose sejenak di daerah Sagala.
Yang menewaskan Sisingamangaraja XII : Foto tahun 1907. Tentara Belanda mengejar Sisingamangaraja XII di kawasan hutan Tele. Dipimpin Hans Christoffel (memegang tongkat), mereka berpose sejenak di daerah Sagala.

Keinginan dari cicit kandung Raja Sisingamangaraja ke 12 ini adalah sesuatu yang sangat lumrah untuk disampaikan kepada Kerajaan dan Pemerintah Belanda.
Ada 4 orang dalam satu keluarga yang dibunuh oleh tentara Belanda di masa penjajahan yaitu :
Raja Sisingamangaraja ke 12 dan 3 orang anaknya, yaitu : Raja Patuan Anggi Sinambela, Raja Patuan Nagari Sinambela, dan Putri Lopian Sinambela.
Hidup bagaikan roda yang berputar.
Walau 4 orang sudah dibinasakan tetapi semangat juang dari Raja Sisingamangaraja ke 12 tetap diwariskan kepada keturunan-keturunannya.
Hampir 106 tahun, Raja Sisingamangaraja ke 12 dan ketiga anaknya tewas di tangan tentara Belanda yang dipimpin Hans Christoffel.
Dimana tanggung-jawab Kerajaan dan Pemerintah Belanda atas kekejaman perang di masa lalu ?
Yang diinginkan oleh cicit kandung Raja Sisingamangaraja ini adalah kembalinya barang-barang pribadi milik sang kakek.
Dan dia berhak dan sangat sah menuntut pengembalian itu secara utuh.
Pasca pernikahannya yang diberkati di Gereja Parmalim (Huta Tinggi), Raja Tonggo Tua Sinambela akan memulai hidup baru dengan sang istri di kawasan Jalan Letjen. Jamin Ginting, Padang Bulan, Medan, Sumatera Utara.
Ia menunggu itikat baik dari Pemerintah dan Kerajaan Belanda.
Misinya meminta kembali seluruh barang-barang milik sang kakek adalah untuk mewujudkan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada seorang pahlawan nasional yang telah dengan sangat gagah berani berjuang melawan penjajahan Belanda.
Sisingamangaraja dan 3 anak yang begitu dicintainya, tewas di tangan penjajah demi memperjuangkan kemerderkaan untuk Indonesia.
Bung Karno mengatakan, “Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah !”.
Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan-pahlawannya.
Sementara menurut Napoleon Bonaparte, seorang Panglima Perang yang sangat membanggakan dari Perancis, bahwa sejarah adalah versi dari lembaran masa lalu, dimana masyarakat sepakat menyetujuinya (sebagai sebuah kebenaran).
“History is the version of past events that people have decided to agree upon”.
Hampir sebagian besar dari masyarakat Tapanuli mengetahui sebuah legenda nyata yang menceritakan sebuah ciri tentang Raja Sisingamangaraja ke 12 bila hendak memperkenalkan dirinya :
“Ahu Sisingamangaraja !”
Yang artinya, “Saya SISINGAMANGARAJA !”
Sumber: rajasisingamangaraja.wordpress.com

Parmalim - Mengenal Kepercayaan Asli Suku Batak

Mengenal Kepercayaan Asli Suku Batak 


13036227842105621885Sebelum Kristen dan Islam masuk ke tanah batak abad 19, jauh sebelumnya sudah ada kepercayaan yang di anut orang-orang batak sebagai sebuah agama yang menjadi landasan hidup mereka.
Kepercayaan asli orang batak ini di sebut “Parmalim” atau ” Ugamo parmalim” (Agama parmalim).  Keyakinan yang mereka pegang mengandung nilai-nilai religius yang luhur dan mulia, yaitu kehidupan yang harmonis dengan sesama manusia dan kepada sang pencipta.

Asal muasal kata “Parmalim” adalah dari kata “malim” yang artinya kesucian serta hidup untuk saling mengayomi dan memuliakan OPPU NAMULA JADI NA BOLON atau debata (Tuhan pencipta langit dan bumi).   Jadi Parmalim adalah orang-rang yang mengutamakan kesucian hidup.
Mereka menyembah OPPU NA MU JADI NABOLON, siapakah Dia ini dalam kepercayaan parmalim?  Dia adalah Tuhan pencipta alam semesta yang tak berwujud, dan manusia tidak bisa bertemu dengannya.  Jadi untuk menghubungkan manusia dengan pencipta itu, maka di utus seorang parhitean (perantara) yaituRaja Sisingamangaraja yang juga di kenal dengan Raja Nasiak Bagi.  Raja Nasiak Bagi merupakan sebutan terhadap kesucian (Hamalimon) dan juga semua jasa-jasanya hingga akhir hayatnya dalam mengayomi bangsa batak.  Nasiak Bagi juga sudah di takdirkan untuk hidup menderita dan dia tidak kaya tetapi sama miskinya dengan rakyatnya, baginya hidup adalah pengorbanan.
Ritual agama Parmalim

Saat ini pusat agama parmalim terbesar ada di desa Hutatinggi, sekita 4 km dari kecamatan lagu boti kab.Toba Samosir.  Saat ini penganut Parmalim mencapai sekitar 7.00 orang yang tersebar di 39 tempat di seluruh indonesia.
Seperti agama-agama lain, parmalim juga memiliki rumah Ibadah yang disebut Bale Pasogit.  Parmalim tidak memakan daging babi dan anjing serta mengharamkan darah untuk di makan.  Mereka juga beribadah hari sabtu dan hari itu merupakan hari keramat bagi mereka sehingga tidak boleh bekerja dan bepergian jauh di hari sabtu.   Disamping itu mereka juga mempercayai 44 nabi yang menjadi utusan agama-agama lain.

Parmalim  memiliki 2 peringatan besar tiap tahun yaitu Sipaha sada dan Sipaha lima.  Sipaha sada adalah tahun baru batak, yang dimulai bulan maret dan Sipaha lima dilakukan saat bulan purnama antara bulan juni dan juli.
Penganut parmalim juga sangat mencintai lingkungan dan alam ciptaan Tuhan.  Mereka di larang menebang pohon, namun jika harus menebang pohon mereka harus menggantinya dengan menanam tunas baru.  Mereka juga tidak boleh merusak tunas baru yang masih kecil, dengan demikian mereka sangat menjaga kelestarian alam dan lingkungan kehidupan.
Persepsi yang salah dan diskriminasi terhadap parmalim
Bagi orang yang tidak mengenal parmalim dengan baik, mereka selalu di cap sebagai “Sipele begu” (penyembah setan).  Padahal sesungguhnya mereka menyembah OPPU NA MULA JADI NA BOLON (Tuhan pencipta alam semesta).  Akibat salah persepsi itu tidak jarang mereka di jauhi dan di benci serta dianggap sesat.

Disamping itu pemerintah juga turut berperan menyudutkan parmalim ini, dengan cara tidak mengakui keberadaan mereka, sehingga dalam mengurus administrasi kependudukan mereka mengalami kesulitan seperti membuat akte lahir, akte nikah dan KTP.  Hal ini menyebabkan banyak diantara mereka yang tidak memiliki administrasi kependudukan.  Dalam pembuatan KTP kolom agama di kosongkan, hal ini menyulitkan mereka untuk mencari pekerjaan dan juga bersekolah.
Dengan demikian Umat Parmalim merasa bahwa mereka belum merdeka dari penjajahan, sebab kebebasan mengeskpresikan keyakinan mereka terhambat oleh pemerintah.  Seharusnya pemerintah mengayomi kepercayaan yang mereka telah anut turun-temurun dari nenek moyang mereka jauh sebelum indonesia ada.

Kata-kata Bijak Parmalim
Kata-kata bijak parmalim ini merupakan inti dari kepercayaan mereka yang luhur yaitu:
“Marpangkirimon do namangoloi jala na mangulahon patik ni debata, jala dapotna do sogot hangoluan ni tondi asing ni ngolu ni diri on” artinya
(”Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran/hukum Tuhan dan melakukanya dalam hidupnya akan memiliki pengharapan kelak.  Ia akan mendapatkan kehidupan roh suci dan kekal”)

Sumber : sosbud.kompasiana.com/

Parmalim - TENTANG PARMALIM DAN AGAMA MALIM

TENTANG PARMALIM DAN AGAMA MALIM


Bangunan Pusat Agama Malim di Huta Tinggi Laguboti Toba Samosir (Foto: Petrus M. Sitohang)

Pengantar:
Hanya sedikit diantara kita, termasuk orang Batak sekalipun, yang mengenal komunitas Parmalim, sebuah komunitas masyarakat Batak Toba (sebagian besar) yang menjalankan kepercayaan asli dan berakar pada kebudayaan Batak. Mereka meyakini Sisingamangaraja sebagai salah seorang nabi, penerima wahyu dari Tuhan yang mereka sebut Mula Jadi Nabolon.
Salah satu yang tidak banyak diketahui orang tentang Agama Malim ini adalah mereka berpantang memakan daging babi dan makanan yang mengandung darah. Selain itu mereka juga dilarang untuk menebang kayu di hutan sembarangan.
Bulan April 2009 saya berkesempatan mengunjungi pusat Agama Malim di Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti Kabupaten Tobasa dan bertemu langsung dengan Raja Ihutan (gelar pemimpin tertinggi agama Parmalim) Raja Marnangkok Naipospos, dan saudaranya Monang Naipospos yang adalah salah satu tokoh intelektual Parmalim yang paling aktif menulis dan menjadi semacam kepala bidang hubungan dengan masyarakat luar Agama Parmalim, dan yang dalam Pemilu Legislatif tahun 2009 yang lalu terpilih menjadi salah seorang aggota DPRD Kabupaten Toba Samosir.
Tulisan berikut ini adalah kutipan langsung dari web resmi Agama Malim yaitu www.parmalim.com atas seijin dari Monang Naipospos.


HAMALIMON BATAK

Hubungan dengan Mulajadi Nabolon disebut “Ugamo” inti ajaran dalam menjalankan hubungan itu disebut “Hamalimon”.
Pengertian “Malim” ada dua bagian: “Malim” sebagai sifat dasar yang dituju, berawal dari “Haiason” dan “Parsolamon”. Yang kedua adalah “Malim” sebagai sosok pribadi.

Haiasaon diartikan kebersihan. Kebersihan fisik dan rohani. Parsolamon diartikan membatasi diri dari menikmati dan bertindak.

Ada beberapa pribadi leluhur di tanah batak yang dianggap sebagai Malim, yakni Raja Uti, Simarimbulubosi dan Sisingamangaraja.

Mereka menganjurkan panyampaian persembahan kepada Mulajadi Nabolon yang disebut Pelean Debata “na ias jala malim” bersih dan suci. Pelaksanaannya diawali dari pribadi (keluarga) seperti penyampaian “patumona ni naniula” kegiatan se kampung yang merupakan klan dalam satu parsantian.
Biasanya kumpulan satu rumpun keluarga semarga termasuk boru dan paisolat (pendatang). Persembahan suci sebagai ucapan syukur kepada Mulajadi Nabolon dilakukan pada Upacara Bius dengan persembahan kerbau yang disebut Horbo Santi atau Horbo Bius.
Horbo Santi, seekor kerbau (sitingko tanduk siopat pusoran) pilihan bertanduk bulat dan empat pusar. Kerbau ini dipelihara berbulan-bulan sebelum dipersembahkan. Kerbau ini bila masuk kehalaman orang, dianggap anugerah, bila masuk ke kebun tidak didenda.

HARAJAON BATAK
Raja Uti dikenal menerima amanah mengajarkan Hamalimon dan pola penyembahan terhadap Mulajadi Nabolon. Beliau juga menerima amanat “Harajaon” pertama sekali di tanah Batak walaupun tidak dilakukan secara terlembaga. Raja Uti dianugerahi Mulajadi Nabolon “Mula ni Harajaon na marsuhi ni ampang naopat”.
Suhi ni ampang naopat menjadi dasar konsep kelembagaan masyarakat, harajaon dan paradatonHarajaon Biusyang kemudian dikembangkan Sisingamangaraja selalu mengacu kepada empat orang Raja utama. Mereka disebut PargomgomPangumeiPartahi dan Namora. Keempat Raja ini dilengkapi perangkat tambahan yang penyebutannya berbeda di masing-masing bius, seperti parmaksipartingtingnabegu dll. Untuk menghindari adanya kasta diantara mereka sering juga disebut Raja Naualu. Keempat Raja tadi lazim juga disebut Raja Naopat atau Raja Maropat. Raja Bius juga disebut Raja Parbaringin. Konsep ini sudah lama di tanah Batak sebelum mengenal raja Merampat di Aceh, karena kebetulan saja sama. Sering peneliti menyatakan Sisingamangaraja meniru konsep ini dari Aceh.
Sisingamangaraja menerima wejangan dari Raja Uti untuk pelaksanaan amanah “maningahon” harajaon, patik, uhum, hamalimon. Harajaon “na marsuhi ni ampang naopat” tetap menjadi landasan pelaksanaannya.
Otonomi dinikmati masyarakat. Beliau tidak menjadi raja untuk kekuasaan sentral. Demokrasi Batak dibangun dan dipelihara. Tujuan ketakwaan kepada Mulajadi Nabolon dipenuhi, hormat kepada pemimpin masyarakat (pantun marraja) dan sayang terhadap sesama manusia.
Bius dibenahi menjadi Dewan Pertimbangan Kebijaksanaan yang dilakukan oleh HutaBius diwajibkan memenuhi syarat memiliki “onan” untuk bursa ekonomi rakyat dan berfungsi ganda meliputi pelayanan kesehatan dan pelayanan pertimbangan hukum. Di onan juga disediakan area “partungkoan” para pemimpin “raja-raja” bius, hutadan perangkatnya.

Onan adalah pekan atau pasar. Onan dibentuk sebagai persyaratan ini menjadi bius. Ada hukum di onan yang disebut, osos hau tanggurung tongka masipaurakan. Bila terjadi persenggolan tidak boleh bersengketa. Onandijaga oleh seorang pendekar partigabolit menjamin keamanan. Di Onan dilakukan mediasi permasalahan hukum oleh para Raja Bius dan juga Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat oleh Sibaso dan Tiang Aras.
Bius juga melakukan “Pardebataon” minimal sekali dalam satu tahun yakni peyampaian persembahan kepadaMulajadi Nabolon atas limpahan rejeki hasil panen yang diberikan.

Agamanya (Ugamo?) ada pada tatanan keteraturan, kedamaian dan ketakwaan kepada Mulajadi Nabolon dengan mempedomani syarat Hamalimon. Sistem ini yang kemudian dikenal dengan Harajaon Malim.


MASA KRISIS

Sisingamangaraja XI sudah melihat adanya ancaman kemerosotan kepercayaan yang tumbuh sejak lama di tanah Batak. Dampak dari serangan padri sangat terasa dalam perubahan moral dan perekonomian. Tatanam kemasyarakatan, adat, patikuhumharajaon, dan hamalimon terancam punah.
Pada era Sisingamangaraja XII pergolakan di Tanah Batak semakin keruh, pembangkangan semakin banyak, keberpihakan kepada penjajah dan misi baru semakin deras. Dulunya para Raja Bius Parbaringin yang sangat mendukung Raja Sisingamangaraja XII menentang penjajahan mulai merosot. Diantara kerabat para raja tradisional itu ada yang diangkat kolonial menjadi raja versi mereka. Para raja angkatan penjajah ini melakukan pendekatan dan penekanan kepada para Raja Parbaringin dan para pejuang pro Sisingamangaraja XII untuk melenturkan peranannya.

Pada suatu ketika, Raja Sisingamangaraja XII membuat maklumat bahwa beliau sakit. Para Raja Bius menjadi pesimis, tidak seorangpun menjenguk beliau. Pada saat itu Raja Mulia Naipospos Raja Parbaringin dari Bius Laguboti berangkat menuju Bakkara. Ternyata Raja Sisingamangaraja XII sehat walafiat. Kepada Raja Mulia dipaparkan ancaman yang akan datang dan semakin lemahnya dukungan perjuangan menentang penjajahan.

Hamalimon dalam Habatahon itu akan pupus bila dibiarkan tanpa pertahanan. Sisingamangaraja XII menyusun strategi lebih tegas dalam bentuk aksi. Raja Mulia memegang teguh peranannya untuk tidak muncul sebagai sosok perlawanan anti kolonial, sehingga lebih didekatkan kepada Missionaris Nommensen di Sigumpar. Ini merupakan pengkaderan secara terselubung agar tidak segera dipatahkan oleh gerakan misi kristen dan penjajah.
Guru Somalaing Pardede melakukan aksi pengorganisasian hamalimon. Sisingamangaraja XII sebelumnya lebih mempercayainya sebagai penasehat perang. Ajaran Guru Somalaing makin mengkristal. Sebelumnya Raja Sisingamangaraja XII sudah mengetahui ajarannya ada dipengaruhi kepercayaan Romawi oleh Modigliano dengan penambahan tokoh spiritual Patuan Raja Rum, dan tidak mendapat restu. Gerakan spontan ini mengakibatkan beliau ditangkap dan dibuang.
Setelah Raja Sisingamangaraja XII diumumkan gugur 17 Juni 1907 dalam perjuangan melawan penjajah, tanah batak berduka, ada yang pesimis dan ada yang optimis. Yang pesimis mengikuti jejak penjajah, dan yang optimis tetap melakukan perjuangan mempertahankan hak dan kebebasan.


PELEMBAGAAN UGAMO MALIM

Ugamo diartikan suatu kumpulan orang yang melakukan aksi membentuk hubungan dengan Penciptanya. Raja Mulia yang menerima amanah sedikit ragu atas kemampuannya, hingga beliau ditemui oleh seorang sosok yang kumal. Beliau menagih janji untuk melembagakan hamalimon yang disebut UGAMO MALIM. Ketika Raja Mulia hendak mengucapkan kata pernyataannya siapa diri yang menemuinya, beliau spontan menghentikan dan mengenalkan diri “Nasiakbagi” tidak memiliki harajaon, dan harta benda serta kampung halaman.
Raja Mulia bersedih, karena harus memperkenalkannya “sahabatnya” (didepan umum disebut sahabat, namun dalam pengakuannya adalah sebagai guru, raja dan MALIM) seperti, marga Simatupang, teman pedagang, teman main judi dan lain sebagainya. Para pengikutnya menyebut Nasiakbagi lebih terhormat menjadi “Raja Nasiakbagi”. Apa yang diamanatkan Sisingamangaraja XII sebelumnya itu juga dituntut pelaksanaannya.
Munculnya Raja Nasiakbagi semakin menguatkan keyakinan Raja Mulia Naipospos akan pesan yang telah diamanatkan Raja Sisingamangaraja sebelumnya. Raja Nasiakbagi menyerahkan konsep pengorganisasian dan ajaran Ugamo Malim sesuai dengan apa yang diterimanya dari Raja Sisingamangaraja. Raja Nasiakbagi selalu menolak apabila dirinya dianggap sosok Raja Sisingamangaraja XII ataupun penjelmaannya. Beliau selalu mengatakan bahwa Sisingamangaraja sudah berada disisi Mulajadi Nabolon.
Gayus Hutahaean dengan semangatnya menyebarkan informasi bahwa Raja Sisingamangaraja XII hidup dan jalan bareng dengan Raja Mulia Naipospos menyebabkan dia ditangkap pemerintah Belanda dan dibuang. Sejak itu tidak ada yang berani membicarakan Raja Sisingamangaraja.
Penjajah dan kroninya mencurigai langkah Raja Mulia dan sosok “Nasiakbagi” dan melakukan fitnah dan pengejaran. Raja Mulia dipenjara beberapa kali karena tidak menyebut siapa sebenarnya yang menyebut dirinya Nasiakbagi itu. Setelah melihat pola pengajaran dan pengorganisasian yang dilakukan Raja Mulia sudah mapan, akhirnya “Raja Nasiakbagi” meninggalkannya.
Tantangan dan kekerasan banyak dihadapi selama mengembangkan Ugamo Malim. Berbagai tudingan dan sebutan dilontarkan tidak dijawab. Ada yang menyebut mereka sama dengan kelompok Parhudamdam, ada yang menyebut Parsitengka ada yang menyebut Agama Sempalan dari berbagai Agama, ada yang menyebut Animisme, ada yang menyebut Sipelebegu atau Pelbegu. Sebagian lagi menyebut mereka Parugamo, dan ada yang menyebut Parsiakbagi. Semua sebutan itu tidak dibantah, karena mereka yang berkuasa saat itu lebih dominan diterima publik. Ada kepentingan mereka untuk memberikan stigma buruk kepada kelompok ini agar tidak ada yang mengikuti atau bila mungkin ditinggalkan para pengikutnya.Karena mereka adalah par-Ugamo Malim maka lebih lajim disebut menjadi Parmalim.

Mereka sering dipaksa memberikan sumbangan pembangunan gereja. Pernah mezbah persembahan Parmalim di Hatinggian dirampas dan dirobohkan atas perintah Raja Ihutan yang diangkat Penjajah. Pemerintah kolonial akhirnya memberi izin kepada Kelompok Parmalim yang dipimpin Raja Mulia Naipospos untuk mendirikan BALE PASOGIT tempat peribadatan di Hutatinggi yang dikeluarkan controleur van Toba tahun 1921.


STRATEGI PENGEMBANGAN
Raja Sisingamangaraja dan raja Nasiakbagi menanamkan motto bagi para pengikutnya untuk menerima perkembangan tanpa mengorbankan nilai spiritual Batak. Motto ini dikenal dengan : Parbinotoan Naimbaru, Ngolu Naimbaru, Tondi na marsihohot.

Parbinotoan Naimbaru: Menerima perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi demi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ngolu Naimbaru: Menerima perkembangan jaman untuk meningkatkan kesejahteraan dan peradaban, tanpa melanggar etika sosial sesuai tuntunan ajaran Ugamo Malim.

Tondi na Marsihohot: Tetap bertaqwa kepada Tuhan Debata Mulajadi Nabolon melalui ajaran Sisingamangaraja - Raja Nasiakbagi tanpa dipengaruhi ajaran keyakinan agama lain.

Parmalim menyongsong masa depan, tak pernah surut melakukan pedoman dan ajaran yang dianut walau mengalami banyak hambatan external dan internal. Para tokoh Parmalim menolak mengikuti pendidikan mission kepada anak-anaknya karena harus dibaptis kristen. Raja Mulia harus menjalankan amanah, pendidikan harus dilakukan. Anak tunggalnya Raja Ungkap disekolahkan ke sekolah independent yang dikelola pendidikan Inggeris di Tambunan yang berbasis di Singapura. Tidak diwajibkan menganut agama tertentu.
Semula Raja Ungkap dianggap para tokoh Parmalim akan menjadi lawan setelah menerima pendidikan modern dan pergaulan dengan orang asing. Raja Mulia sebelumnya banyak menerima hujatan dari para rekan seperjuangannya karena masalah pendidikan itu.Raja Ungkap membuktikan sebaliknya. Walau tidak terlalu mulus, beliau mendirikan Sekolah Parmalim (Parmalim School) tanggal 1 November 1932. Sejak itu banyak anak Parmalim mendapatkan pendidikan.

Penganut Agama Batak tempo dulu banyak ditarik menjadi Kristen melalui pendidikan yang dikelola mereka. Pada umumnya para Parbaringin tidak setuju dengan pengorganisasian Ugamo Malim (Parmalim) akhirnya terlindas dengan jaman. Dengan dibukanya sekolah Parmalim generasi baru dibangun. Inilah sejarah awal dimulainya Parmalim baru yang lebih cerdas. Pendidikan misi Kristen tidak memberi pengaruh pencerdasan generasi Parmalim yang ada saat itu dan sekarang.

Raja Mulia Naipospos menyerahkan tahta kepemimpinnan kepada putra tunggalnya Raja Ungkap Naipospos pada tahun 1956. Raja Ungkap sebelumnya sudah mengalami pahit getir penggemblengan diri dari Raja Mulia ayahandanya sendiri. Raja Ungkap adalah generasi kedua dan pertama sekali menerima pendidikan sekolah. Beliau menguasai Bahasa Inggeris, Belanda dan Jepang.
Dengan berpedoman kepada prinsip parbinotoan naimbaru (ilmu pengetahuan baru), ngolu naimbaru (hidup lebih sejahtera) tondi na marsihohot (kepercayaan yang teguh), beliau melanjutkan apa yang telah dibentuk dan dirintis Raja Mulia.

Beliau juga memimpin misi penguatan ajaran Ugamo Malim bagi para pemeluknya yang berpusat di Sait Ni Huta, Uluan. Gerakan itu juga meningkat hingga mencari peluang kehidupan yang lebih baik dengan gerakan manombang. Mereka mencari peluang kehidupan baru di daerah Sumatera Timur – Simalungun tepatnya daerah Bah Jambi. Disana berdiri sebuah perkampungan khusus untuk Parmalim dan disebut Kampung Malim. Sejak itu, Parmalim menyebar dari Toba ke daerah subur Sumatera bagian Timur.Langkah itu, telah memperkuat kesatuan (kelembagaan), kemandirian, kedamaian, dan kekuatan iman Parmalim.

Pendidikan dan pemanfaatan peluang kehidupan, kewirausahaan bukan ajaran baru bagi Parmalim yang sampai saat ini sudah banyak menghasilkan SDM dan berperan di berbagai kegiatan, pemerintahan maupun swasta.

Masyarakat umum tidak dapat lagi mengenal Parmalim dalam pandangan yang kaku seperti sosok dukun, berjambang, makan sirih, pakai tongkat, ikat kepala, pakai ulos, bau kemenyan, ahli nujum dan lusuh. Image itu sejak lama dipraktekkan kelompok tertentu dan menganggap Parmalim merupakan obyek yang perlu diselamatkan dan digiring kehadapan Tuhan menurut cara mereka. Sampai saat ini pemahaman ini masih ada, dan sejak masa pembentukan wujud Parmalim yang lebih maju dan mandiri itu, sebaliknya masih banyak orang menganggap Parmalim sudah punah.
Pernah sekelompok mahasiswa Sekolah tinggi Agama dari Tarutung berkunjung ke Pusat Parmalim di Hutatinggi. Mereka berpikir akan berhadapan dengan sosok manusia berjambang, makan sirih, pakaian serba hitam, bau kemenyan dan asesori rumah tinggal dipenuhi patung-patung berhala dan tunggal panaluan. Katanya itu dari refrensi mata kuliah mereka.

Berfoto bersama di depan bangunan baru Bale Pasogit Agama Malim di Huta Tinggi Laguboti Toba Samosir bersama (dari kiri ke kanan): Monang Naipospos, Petrus Sitohang, Bonar Siahaan dan Haji Imran Napitupulu (Foto: Hasudungan Rudy Yanto Sitohang).

Sumber : sitohangdaribintan.blogspot.com

Agama Malim di Tanah Batak : Prof. Dr. Ibrahim Gultom

Agama Malim di Tanah Batak

Judul Buku : Agama Malim di Tanah Batak Penulis : Prof. Dr. Ibrahim Gultom Penerbit : Bumi Aksara 2010 Tebal : 374 halaman

Buku Agama Malim yang ditulis Prof Dr. Ibrahim Gultom ini, mulanya adalah sebuah disertasi beliau untuk meraih gelar Ph. D di Universiti Kebangsaan Malayasia (UKM). Disertasi itu, diakui, ia kerjakan selama 2 tahun di daerah Batak Toba, khususnya di pusat Agama Malim yang berkedudukan di Hutatinggi, Laguboti.
Buku ini dimulai dengan penjelasan teknis penelitian. Kemudian berturut-turut dibahas Tentang Sekilas Suku Bangsa Batak, Lahirnya Agama Malim, Kosmologi Agama Malim, Sistem Kepercayaan Agama Malim, Ajaran dan Sumber Hukum Agama Malim, Ritual Agama Malim, Struktur Organisasi dan Sumber Keuangan Agama Malim serta Analisis dan Kesimpulan berikut dengan tabel dan glosarium di akhir buku.

Mitos, Sejarah dan Karya Ilmiah
Mitos sering menjadi daya tarik antropolog untuk melakukan riset. Bagi antropolog, mitos bukanlah sesuatu yang naïf dan tak berdasar. Sebaliknya dicurigai cikal bakal sebuah fakta dan peristiwa sejarah. Mitos yang dikembangkan secara oral, bukan tak mungkin benar, meski juga sering sekedar foklor.

Membicarakan Parmalim tak lepas dari mitos dan sejarah Batak (baca; Toba). Parmalim sering merupakan irisan dari keduanya. Yang mitos bagi masyarakat Batak, oleh Parmalim sebagian besar diyakini benar. Misalnya, kisah penciptaan dunia oleh Mulajadi Na Bolon (Pencipta tak Bermula) melalui putrinya Si Boru Deak Parujar yang menempah sepetak demi sepetak tanah.

Adalah Raja Ihat Manisia dan Boru Ihat Manisia, manusia yang pertama kali diciptakan dan berdiam di Dolok (gunung) Pusuk Buhit (salah satu gunung tertinggi di dataran tinggi Batak) di Sianjur Mula-mula. Dalam proses itu tersebutlah nama-nama seperti Raja Odap-Odap, Si Boru Saniang Naga, Nagapadoha ni aji yang yang mendapat tempat khusus dalam ajaran Malim.

Sedang dari kajian sejarah dan antropologi, muasal orang Batak terdiri dari banyak versi. Ada yang beranggapan bahwa mereka berasal dari India Selatan. Ada juga yang mengatakan masih termasuk satu rumpun Melayu yang tertua di Sumatera. Ada Pendapat lain menjelaskan suku Batak masih berhubungan dengan kelompok masyarakat di pedalaman Filipina.

Karenanya sejarawan, menganggap kisah-kisah di atas berikut tokoh yang memerankannya hanyalah mitos belaka.

Perintis ajaran Malim di Tanah Batak, mulanya adalah Raja Uti, yang oleh Parmalim diyakini sebagai utusan langsung Mulajadi Na Bolon dengan tujuan rekonsiliasi antara Banua Ginjang dan Banua Tonga (dunia) yang ketika itu mulai renggang.

Kepemimpinan Raja Uti kemudian diteruskan oleh Tuhan Simarimbulubosi dan dilanjutkan Raja Na Opat Puluh Opat setelahnya Raja Sisingamangaraja (I-XII) dan terakhir Raja Nasiakbagi. Setelah Raja Nasiakbagi, tongkat estafet diserahkan kepada Raja Mulia Naipospos, yang merupakan sahabat Raja Nasiakbagi. Di masa Raja Mulia Naipospos inilah ajaran Malim kemudian dilembagakan menjadi Agama Malim.

Kini kepemimpinan, yang disebut juga iuhutan, diemban oleh Marnangkok Naipospos, turunan langsung Raja Mulia Naipospos. Parmalim meyakini Raja Uti, Tuhan Simarimbulubosi, Raja Na Opat Puluh Opat , Sisingamangaraja (Parmalim tak pernah menyebut I- XII karena meyakininya sebagai titisan) Raja Nasiakbagi sebagai utusan Mulajadi Na Balon ke Banua Tonga. Para tokoh ini amat disakralkan, sebagaimana nabi dalam agama samawi.

Jika dirunut ajaran Agama Malim di Tanah Batak sudah berkembang jauh sebelum agama-agama samawi masuk. Menurut buku ini, Sisingamangaraja I saja hidup di tahun 1515 M. Padahal dari Raja Uti ke Sisingamangaraja I ada 2 generasi lagi, yakni Tuhan Simarimbulubosi dan Raja Na Opat Pulu Opat. Sedangkan Kristen misalnya masuk ke Tanah Batak di akhir abad ke- 18.

Memang kelembagaan Agama Malim baru terbentuk di akhir tahun 1800 an. Tetapi jauh sebelum itu, di masyarakat Batak, sudah tercipta satu tatanan hidup religius yang berlaku di masyarakat yang diklaim Parmalim, sebagai ajaran Agama Malim (karenanya Parmalim menolak agamanya disebut sempalan).

Dalam konteks pranata sosial, dikenal falsafah Suhi Ni Ampang Na Opat (SuNANO) yang belakangan menjadi Dalihan Na Tolu (DNT). Konsep SuNANO diperkenalkan pertama kali oleh Raja Uti, yang menegaskan bahwa masyarakat Batak selain; somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu (Dalihan Na Tolu) juga harus patuh dengan perintah raja, dalam hal ini disebut dengan pemimpin agama.

Tetapi oleh penjajah Belanda (?) yang terakhir dihilangkan dengan tujuan menghapus kekuasaan dan kharisma raja sebagai bagian dari penjinakan perlawanan. Dalam hal kosmologinya, Parmalim mengimani adanya tiga alam "kehidupan" yakni Banua Ginjang (khayangan), Banua Tongam (bumi) Banua Toru. (Oleh : Jones Gultombawah)

Sumber : medanbisnisdaily.com

Habatahon - Batak People From North Sumatera



Batak People From North Sumatera


batak people
The Batak is very spirited and self-confident people. From the first, they could defend their homeland against intrusion by outsiders, and only in the last 100 years that their lifestyle, and culture has undergone major changes under the influence of Christianity, Islam and colonialism. These developments did not follow a common pattern. In different regions and different periods, Batak would really experience the heir neighbors and foreign invasion.
All the Batak people play a very important role for the Batak Toba. It is a primary extra. The rules are still in use and establish their special all the flavors of the everyday life of the Batak people. Persons may not marry within his clan in the old days. Those who go against the Government were practitioners sentenced to death. When they come from the same class, they tried the clans of the special relationship.
hula-hula relation he ties a man to his wife and considered as a clan elder and should be respected. Boru is a relation of human relationships as the clan was married to the sister clans and should be respected. Dongan tuburelationship is the relationship between members of the same clan. When a man married his family pay for the bride, who Husband Being a member of his clan.
Batak culture led mainly to merge the old and the roots of Hindu culture and Indian Buddhists and Indian influences that appeared for five centuries. Pre Hindu culture could be described as Old megalithic culture, and it is from this that the distinctive features of the artistic culture of the Batak are descended.
Among these features, should be the first mention of all own megaliths, is perpetuated today in the form of the Singas largest and most modern cement of which adorn Graves. Furthermore, the houses of the roof of horns, the first image which is located in a drum of bronze culture Dong Son, which runs South-East Asia from Northern Indochina around of the 3rd century BC, shows the longevity of the megalithic culture of age.
Religion.
The majority of the Batak are Christian, one million three hundred thousand Protestants and Catholics. And Batak is about five hundred thousand, especially to the west and south. In addition, we may consider that there are about two thousands of traditional animist, but this number is quite uncertain. It Provides nuances and level of religious conversion to one of the Ancestral religions other great monotheistic. It should be noted that last separated from religion, Christianity and traditional Islam, there is a bit like a cult-like Parmalim said to be a synthesis of their traditional animistic beliefs and some elements of Islam such as those raised in the Nineteenth Century, and currently have only a few followers left.
Day of the Most Christian Batak Muslim minority. Currently, the largest Christian congregation in Indonesia is HKBP (Huria Kristen Batak Protestant) Christian churches. The dominant Christian theology is Carried by the Lutheran missionaries in 19th-century Germany, including the well known missionary Ludwig Ingwer Nommensen. Christianity was introduced to the Karo by Dutch Calvinist missionaries, and their church is the largest GBKP (Batak Karo Protestant Church). But, Batak Mandailing speakers converted to Islam in the early 19th century.

The society.
Batak societies are organized throughout the patriarchal clans known as Marga. The Batak Toba believed to be from a single ancestor SiRaja Batak, with all Margas, descended from him. A family tree that defines the parent-child relationship is called tarombo Batak people.
Batak Toba is traditionally known for their tissues especially decorated carving of wood, stone and tombs. His burial and marriage traditions are very rich and complex.
Burial tradition includes a ritual in which the bones reinterred Ancestors, who a few years after the death. This secondary burial is known among the Batakk Toba as (mangongkal Holi). Before They Become the subject of the Dutch East Indies colonial government, Batak had a reputation for being fierce fighters.
Language.
Batak speaks languages closely related, all fellows of the Austronesian language family. There are two main branches, the northern branch of the language Pakpak and Batak Karo language were close to each other, but clearly different from the languages of the south branch consisting of three mutually understandable dialects: Toba, Angkola and Mandailing.
Simalungun Batak is descendants of early southern branch. Simalungun Some dialects can be understood by speakers of Batak Karo dialect Simalungun while others can be understood by speakers of Toba. This is due to blur the lines between the continuum of linguistics That Often six Batak dialects.

Sumber: gobtak.com

Saturday, May 2, 2015

RAGI PANGKO dan RAGI HARUNGGUAN


Ragi Pangko
Ragi Pangko
RAGI PANGKO
Ulos yang jarang ditemukan dan jarang digunakan dalam kegiatan masyarakat adat dan keseharian di Batak Toba. Ulos ini pakaian harian dan pakaian adat yang digunakan kaum perempuan batak jaman dulu.
Ragi pangko adalah motif batang enau (pangko) yang kokoh dan kuat. Ada juga Ragi Huting yang diambil dari motif bulu kucing hitam putih yang halus dan lembut.

RAGI HARUNGGUAN adalah gabungan banyak ragam ragi, seperti ragi pangko, ragi huting, ragi hotang, ragi jobit, ragi runjat, suri-suri dll
Diperagakan oleh model Sanggar Seni PANDE NAULI Erika Melfia Hutapea

SUMBER : https://www.facebook.com/mnaipospos58  

RAGI HOTANG dan SIRARA

Ragi Hotang
Ragi Hotang
Ragi Hotang
Ragi Hotang

RAGI HOTANG
Salah satu ulos yang populer di masyarakat batak dan sering disandang di pesta adat.
Menyerupai ulos ini yang agak didominasi merah disebut juga SIRARA dan menjadi souvenir buat tamu pemerintah.
Ulos Sirara kemudian diproduksi secara massal dengan alat tenun mesin yang kualitasnya sangat jauh dibawah ragi hotang hasil kerajinan tangan.
Ragi Hotang diadopsi dari motif Rotan dan sirat ujungnya yang lebar dengan tojuk yang indah.
Ulos dalam photo ini adalah tenunan lama dari daerah Pintu Batu, Silaen yang menjadi warisan turun temurun.

Diperagakan oleh Desii Arista
SUMBER : https://www.facebook.com/mnaipospos58  

SURANTI dan PADANG URSA (Perbedaanya dengan Tumtuman)



Yang dipakai laki-laki Suranti namanya, tak pakai rambu. Ikat pinggang pakaian lengkap raja.... Sekarang muncul pake rambu dan disebut tumtuman. Tumtuman sebanarnya wana hitam dan rambunya merah... Karena tumtuman ikat kepala para raja parbaringin lalu muncullah tumtuman seperti ini yang dipanjangkan rambunya warna putih... Padang Ursa yang dipakai wanita itu sebenarnya ikat kepala orang berada, terbuat dari sutra.

Tumtum, artinya terkumpul/terikat. Arti luasnya, raja yg mampu mengumpulkan, menyatukan, menguatkan.... pepatah indonesia ada mengatakan "bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh" Warna merah rambu tumtuman adalah arti kekuatan dan pengetahuan. Batak mengartikan kalau kekuatan dipadukan dibarengi kecerdasan..... baiklah hasilnya, kuatlah entitas.... bijaksanalah raja.... warna hitam mengartikan kepemimpinan....

SUMBER : https://www.facebook.com/mnaipospos58  

Perbedaan Sengka dengan Ulos

Ulos Sibolang
Ulos Sibolang
Ulos Sibolang
Ulos Sibolang
Sengka juga tenun tradisional. Pemahaman antara sengka dengan ulos yang agak rancu selama ini. Keduanya sudah ada sejak lama. Produksinya seiring dan sejalan, tenun sengka pada umumnya kegiatan belajar tenun generasi muda batak jaman dulu. Sengka adalah kreasi bebas dengan meminjam motip ulos, jugia, jungkit dan siratnya. Hingga pengembangan kreasi terawang pengganti sirat. Ingat lagu "sengka nauli, cantik terawang, cantik menawan"
Ada dua kata berulang yang lajim didengar dalam bahasa batak yang tidak mengartikan kata dasarnya, seperti ; 1. "ulos-ulos"= bukan ulos yang sebenarnya dari kain, bisa dari wujud lain seperti uang atau sawah. 2. "sengka-sengka"= bukan sengka tenunan sebenarnya, tapi tetap wujut kain tenunan tapi kecil dan cendering sebagai alat pembungkus, pengikat, pembersih..

Tenun dibatak itu populer ulos, tapi ada keluarannya sengka dan gobar. Sebelum selimut datang, produk gobar tenunan batak lebih banyak daripada ulos. Gobar juga ada yang pakai motip sisi dan tengah, banyak warna.... namun sengka lebih indah motipnya karena kreasinya bebar mengutip berbagai motip dari berbagai ulos "namarhadohoan"
Secara umum memang diakui melilitkan karya tekstil ini ditubuh disebut "marulos" Pakai gobar pun disebut juga marulos, pakai sengka juga disebut marulos.

Kalau tidak mau bikin rumit ya tak apalah. Kami kelompok pemerhati budaya harus mengatakan yang sebenarnya. Siapa pun yang meneliti tekstil tradisi batak harus ada mengatakan demikian.... Dan sejak ada istilah "mumpat tuhe, sengsang gadu", karena ada yang mencabut tolok ukur dan ranculah pemahaman. Tak ada yang mengingatkan dan banyak yang mengabaikan. Masing-masing memang ada dijalan yang sudah ditentukan sendiri...dan memang sudah sejak lama demikian...... Selamat berkarya...


SUMBER : https://www.facebook.com/mnaipospos58

Wednesday, April 8, 2015

Thursday, March 19, 2015

Silsilah Marga Batak (Bataks Clan Family Tree)

Batak societies are patriarchally organized along clans known as Marga. A traditional belief among the Toba Batak is that they originate from one ancestor "Si Raja Batak", with all Margas descended from him. A family tree that defines the father-son relationship among Batak people is called tarombo. In contemporary Indonesia, Batak people have a strong focus on education and a prominent position in the professions, particularly as teachers, engineers, doctors and lawyers. (en.wikipideia.org)

Sunday, March 15, 2015

TANAH AIR Jalan Hening Merawat Warisan Parmalim

TANAH AIR Jalan Hening Merawat Warisan Parmalim
Kebersahajaan, welas asih, dan semangat menaati aturan menjadi tiga pilar keyakinan yang mewujud dalam harmoni hidup penghayat Parmalim, kepercayaan asli kaum Batak. Berabad-abad, kredo ini lentur menghadapi tantangan peradaban hingga terus diwariskan ke generasi berikutnya. Di jalan hening, mereka setia merawat warisan nilai leluhur dan moyangnya.

Adsense