Blessed Love

Poltak Sirait Blog

The Siraits

Poltak Sirait Blog

Parhobas

Sosialisasi Perundang-undangan Kebudayaan

Brothers in Law

Poltak Sirait Blog

My Beloved Daddy

Your Blessing upon me always

Pages

Saturday, July 4, 2015

Parmalim (ParUgamo Malim)

3000 KK di Tobasa Masih Mempertahankan Ugamo Parmalim

3000 KK di Tobasa Masih Mempertahankan Ugamo Parmalim

Tribun Medan/Royandi Hutasoit
Upacara Parmalim (Pameleon Bolon Sipaha 5)
Laporan Wartawan Tribun Medan / Royandi Hutasoit
TRIBUN-MEDAN.com, Tobasa - Toga Sitorus salah seorang umat keturunan pimpinan Ugama Parmalim mengatakan bahwa masih mempertahankan Ugamo parmalim.
"Kami ada sekitar tiga ribu kepala keluarga yang masih mempertahankan Ugamo Parmalim ," ujarnya saat perayaan upacara persembahan paha lima di Huta Tinggi Lagu Boti Tobasa, Senin (29/6/2015).
Ia menuturkan seluruh penganut Ugamo Parmalim ini sudah tinggal di berbagai wilayah.
"Kita penganut Parmalim ini berada di berbagai negara, jadi pada acara ini, yang datang dari berbagai negara, ada yang dari Amerika, dari Arab Saudi, Autralia dan lainnya," ujarnya.
Ia menuturkan bawah pas acara seperti inilah mereka akan berkumpul dan mengenal satu sama lain.
"Pada saat acara ini, kami akan saling bercengkrama, memperkenalkan anggota keluarga kami masing-masing, dan tentunya memanjatkan doa kepada Debata Mula Jadi Nabolon," ujarnya.
Ia menuturkan bahwa Ugamo Parmalin ini adalah aliran kepercayaan yang mempertahankan kultural batak.
"Ugamo Parmalim ini adalah kepercayaan asli suku batak, saat ini ada sekitar seratus ribuan oranah yang masih melestarikan budaya batak, melalui Parmalim," katanya.
(cr7/tribun-medan.com)
Editor: Sofyan Akbar
Sumber: Tribun Medan

Pameleon Bolon Sipaha Lima 2015

Ritual Sipaha Lima, Rasa Syukur Parmalim kepada Debata Mulajadi Nabolon

METRO SIANTAR/DHEV BAKKARA Ribuan masyarakat Parmalim dari berbagai daerah penjuru dunia berkumpul bersama untuk merayakan hari besar Upacara Sipaha Lima dialun-alun desa Hutatinggi, Laguboti, Balige, Sumatera Utara, Senin (29/6)
METRO SIANTAR/DHEV BAKKARA Ribuan masyarakat Parmalim dari berbagai daerah penjuru dunia berkumpul bersama untuk merayakan hari besar Upacara Sipaha Lima dialun-alun desa Hutatinggi, Laguboti, Balige, Sumatera Utara, Senin (29/6)
METROSIANTAR, TOBASA-Ribuan masyarakat dari berbagai daerah, khususnya yang menganut aliran kepercayaan Malim atau biasa disebut Parmalim menggelar upacara suci Sipaha Lima.
Upacara hari besar yang digelar selama tiga hari, mulai Minggu (28/6) hingga Selasa (30/6) dipusatkan di Bale Pasogit, Desa Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti.
Sebagaimana dalam kalender Batak, Sipaha Lima diperingati setahun sekali sebagai bentuk syukur atau ungkapan terima kasih atas apa yang dicapai kepada sang pencipta Debata Mulajadi Nabolon.
Untuk tahun ini, Sipaha Lima dirayakan pada 28-30 Juni. Upacara diisi dengan doa-doa, tor-tor, penyerahan persembahan dan penyampaian nasihat-nasihat dari pimpinan Parmalim yang disebut Ihutan. Ihutan saat ini dipimpin oleh Raja M Naipospos.
Seperti penuturan Toga Sitorus, salah satu keturunan pimpinan kepercayaan Parmalim. Upacara Sipaha Lima yang paling sakral adalah upacara pemberian persembahan (Pameleon) melalui berbagai jenis makanan khas Batak dan penyembelihan seekor lembu hitam. Itu dipersembahkan kepada sang pencipta yang sebelumnya telah disucikan.
Persembahan diletakkan dalam tempat yang disediakan atau disebut langgatan dengan dipimpin langsung oleh Ihutan. Kemudian digelar acara doa dan diselingi musik gondang sabangunan.
Seperti wartawan, pada saat acara terlihat seluruh umat mengenakan sarung dan ulos. Namun ada perbedaan, dimana pria yang sudah menikah menggunakan pengikat kepala yang disebut tali-tali dari kain berwarna putih. Berbeda lagi khusuh Ihutan, mengenakan tali-tali berwarna hitam yang menandakan kepemimpinan dan tanggung jawab. Sedangkan untuk wanita, selain mengenakan sarung juga mengenakan selendang (hande-hande).
Informasi yang dihimpun, acara tersebut akan digelar hingga esok (Selasa) dengan acara penutup.
Sementara itu, informasi yang diperoleh, aliran kepercayaan Parmalim baru terbentuk diawal 1900-an oleh Raja Mulia Naipospos. Dari catatan sejarah, kronologis pendirian Parmalim berkaitan dengan kematian Sisingamangaraja XII, 17 Juni 1907 oleh Belanda. Bagi Parmalim, Sisingamangaraja XII, tak lain adalah salah seorang malim (orang suci).
Ia memimpin masyarakat Batak, termasuk dari penjajahan kolonial. Sisingamangaraja XII memberikan titah kepada Raja Mulia Naipospos, agar melembagakan ajaran-ajaran yang ia dan pendahulunya ajarkan.
Dengan demikian penganutnya dapat berkumpul bersama serta memiliki identitas agama yang jelas. Sejak itu, ajaran-ajaran Parmalim pun diformalkan melalui sebuah aliran kerpacayaan.
Kata ‘malim’sendiri berarti suci. Jadi secara umum, Parmalim mengajarkan kesucian kepada para pemeluknya. Seperti samawi lainnya, Parmalim juga memiliki rumah ibadah yang disebut ‘parsaktian’.
Mereka menyebut Tuhan dengan istilah ‘debata mulajadi nabolon’.  Juga mempunyai para nabi yang disebut  ‘malim ni debata’Malim ni debata sendiri atas 2 kelompok.
Pertama kelompok yang berdiam di Banua Ginjang (khayangan) di antaranya; Debata Na Tolu (Batara Guru, Debata Sori dan Bala BulanSi Boru Deak Parujar, Si Boru Saniang Naga dan Nagapadohaniaji.
Sedangkan kelompok kedua adalah sosok manusia yang mendapat berkat atau wahyu dari Mulajadi Nabolon untuk memimpin bangsa Batak, yakni Raja Uti, Tuhan Simarimbulubosi, Raja Na Opat Puluh Opat (44) dan Sisingamangaraja.
Selain itu, Parmalim juga memiliki kitab suci yang disebut pustaha malim. Mereka juga menggelar sejumlah perayaan suci agama. Salah satu yang paling penting dari perayaan agama itu adalah Sipaha Lima.(ft)
http://www.metrosiantar.com/2015/06/30/196933/ritual-sipaha-lima-rasa-syukur-parmalim-ke-debata-mulajadi-nabolon/

Parmalim School

Tahun 1937 Telah ada Parmalim School

Ugamo Malim Lama Terjajah kcl (Bag-2)

01-07-2015_msolnw-0001Pada saat masa penjajahan, ugamo Malim (Parmalim) terkikis ajaran agama yang masuk ke tanah Batak. Salah satu aturan yang mengekang Parmalim adalah pada zaman Zending dimana anak-anak tidak bisa sekolah sebelum di baptis. Saat itulah banyak penganut ugamo Parmalim beralih. Namun sebagian tetap bertahan meskipun harus tidak diperbolehkan mengecap pendidikan.
FREDDY TOBING-TOBASA
Menyikapi hal itu, Raja Ungkap Naipospos membuka sekolah yang disebut Parmalim School yang tempatnya di Huta Tinggi tahun 1937. Dengan bermodalkan ilmu yang ditimbanya dari sekolah pendidikan Inggris di Tambunan, Balige sebelum diangkat sebagai pimpinan ugamo Malim tahun 1955. Sekolah tersebut dibentuk dengan mengingat teladan orangtuanya yakni, parbinotoan naimbaru (ilmu baru ), ngolu naimbaru(kehidupan baru) dan tondi namarsihohot dengan prinsip tanpa mengorbankan nilai-nilai spritual Hamalimon.
Di Parmalim School yang berbentuk berupa pesantren, Raja Ungkap mendidik anak-anak Parmalim dengan bahasa pengantar bahasa Batak, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Bermodalkan ilmu pendidikan dari Parmalim School, maka Parmalim bisa bertahan dan banyak merantau.
Selain membentuk Parmalim School, Raja Ungkap Naipospos juga menggagasi Badan Pangaradoti Parguruan Parmalim (BAPPAR) dan Ugasan Torop pada tahun 1937. Tidak lain, tujuannya untuk mengatasi ketertindasan umat Parmalim dari penjajahan, kemiskinan dan kebodohan.
BAPPAR yang hingga saat ini masih ada merupakan bentuk pendidikan non formal. Tugasnya mengajarkan tentang ugamo Malim. Menyusun kurikulum bagi pelajar untuk mangisi mata pelajaran agama pada rapotr siswa.
Fakir Miskin Dijamin ugamo Malim
Dalam keorganisasian ugamo Malim juga ada Ugasan Torop yang digagasi Raja Ungkap Naipospos. Ugasan Torop ini merupakan bentuk sosial yang diperuntukkan bagi orang yang tidak mampu.
Ugasan Torop ini menjamin kelangsungan hidup fakir miskin dan anak-anak yang tidak memiliki orangtua (yatim). Jadi, tidak ada anak yatim yang terlantar ataupun orangtua yang terlantar akibat tidak mampu atau tidak memiliki saudara,” terang Monang Naipospos.
Ugasan Torop ini merupakan bentuk sosial yang diatur dan dikuasai para Malim atau orang-orang yang disucikan. Setiap Parmalim dengan semampunya wajib memberikan persembahan kepada Ugasan Toropsetiap tahun dalam konteks spritual yang tinggi. peruntukannya bagi yang orang yang pantas dibantu.
“Contohnya, ada orang yang butuh bantuan usaha, maka para Malim memberikan bantuan tersebut dariUgasan Torop. Tetapi harus benar-benar dimanfaatkan. Kemudian jika sudah mampu mengembalikan, maka harus dikembalikan lagi. Tetapi, jika salah dipergunakan, maka akan hancur. Hal itu dijamin dalam konteks spritual yang tinggi. Jadi tidak boleh main-main,” kata Monang.
Diterangkan, Ugasan Torop ini tetap berlangsung hingga saat ini. Dalam kas yang tersedia saat ini ada sebanyak 19.000 kaleng padi dan uang Rp1 miliar. Dana tahun-tahun sebelumnya telah dialokasikan untuk pembangunan gedung di pusat Parmalim dan bantuan sosial lainnya.
“Dengan Ugasan Torop ini, kami jamin tidak ada kata musim paceklik di Parmalim. Semua bisa diatasi denganUgasan Torop yang ada,” tandasnya. (bersambung)
http://www.metrosiantar.com/2015/07/02/197424/ugamo-parmalim-lama-terjajah-kcl-bag-2/

Ugamo Batak


Ugamo Malim, Pertama di Tanah Batak (Bag1)


Sipaha LimaTOBASA – Aliran kepercayaan Malim atau dalam bahasa Batak Ugamo Malim merupakan agama asli nenek moyang suku Batak pada zaman dahulu yang secara turun temurun hingga saat masih banyak penganutnya. Penganut Ugamo Malim disebut Parmalim. Dalam ajarannya, dipercayai sebagai Tuhan atau sang pencipta yang disebut Debata Mula Jadi Nabolon.
 FREDDY-TOBASA
Ugamo Malim berpusat di Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti, Tobasasa. Data yang dihimpun dari pengurus pusat Parmalim Monang Naipospos, saat ini ada sebanyak 42 punguan (cabang) dan 6 cabang persiapan yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah penganut mencapai 1.200 KK atau sebanyak 9.000 jiwa.
Tentang Ugamo Malim, menurut Monang adalah agama asli nenek moyang suku Batak zaman dulu. Namun untuk secara terorganisir, mulai dikembangkan saat kejayaan Raja Sisingamangaraja XII yang dianggap sebagai utusan Mula Jadi Nabolon.
“Sebenarnya, Ugamo Malin yang menganut ajaran Habatahon tidak terhitung usianya. Bahkan, sudah ada sebelum Raja Sisingamangaraja XII. Namun baru terorganisir setelah kepemimpinan Raja Sisingamangaraja XII,” ujar Monang Naipospos yang ditemui di Huta Tinggi, Selasa (30/6).
Diterangkan, untuk penataan keagamaan oleh Raja Sisingamangaraja XII mengangkat Raja Mulia Naipospos sebagai pimpinan atau disebut Induk Bolon. Dimana dalam titahnya berpesan agar agama tersebut kelak tetap dijalankan.
Usai kepemimpinan Raja Mulia Naipospos, kemudian mengangkat anaknya Raja Ungkap Naipospos pada  tahun 1955 secara formal. Kemudian, kepemimpinan itu dilanjutkan oleh Raja Manakkok Naipospos sejak tahun 1981 hingga sekarang.
Tentang ajaran agama, menurutnya ada tiga hal yang harus diteladani seorang Parmalim yang disebut Patik ni Ugamo Malim (dalam bahasa Batak lebih kental). Yang pertama Patik Marsuru (menyuruh), yakni pujion Opputta Debata sian nasa roham (memuja Tuhan dari hati yang paling ikhlas). Pasangapon raja haholongi dongan jolma (patuh kepada Raja dan saling menyanyangi sesama manusia). Kemudian Patik Mamiccang(melarang), yakni manakko nasojadi (tidak diperbolehkan mencuri). Selanjutnya, mamunu jolma naso jadi(dilarang membunuh), dang jadi paoto-otohon (dilarang membodoh-bodohi), dang jadi mangaliluhon (dilarang menipu). Yang ketika Patik Paingothon (mengingatkan), yakni Pajongjongon Ugasan Torop (membentuk wajib sosial).
Sedangkan upacara keagamaan yang juga merupakan kewajiban seorang Parmalim ada tujuh, yakni setiap Sabtu wajib beribadah, setiap ujung tahun (menurut kalender Batak) wajib mangan napaet. Awal tahun (Sipaha Sada) mengenang kelahiran Parmalim, Pameleon Bolon (Sipaha Lima), Martutu Aek, Pasahat Tondi, dan MarDebata.
“Ibadah Sabtu di tempat ibadah masing-masing. Contohnya, di Huta Tinggi ini yang merupakan pusat tempat ibadah disebut Bale Pasogit. Sedangkan di cabang disebut Parsantian. Untuk ibadah Mangan Napaet, hal ini merupakan ibadah mengenang atau renungan perjuangan-perjuangan Parmalim dalam mempertahankanHamalimon. Berbentuk puasa dan makan-makanan yang pahit,” katanya.
Monang Naipospos yang merupakan adik dari Raja Manakkok Naipospos menerangkan, untuk ibadah Sipaha Sada, merupakan ibadah mengenang Mula Jadi Nabolon dan kelahiran para Malim.
“Lebih fokusnya pada pembaharuan diri Parmalim itu sendiri tentang bagaimana pembaharuan dirinya selama itu. Jadi, bukan hura-hura atau layaknya merayakan hari ulang tahun. Intinya merenungkan diri,” bebernya.
Khusus ibadah Pelean Bolon, merupakan acara yang paling sakral dalam Ugamo Malim. Ibadah ini merupakan ungkapan syukur atas anugerah yang kita terima dari Mula Jadi Nabolon selama satu tahun berjalan,” terangnya.
Sedangkan ibadah Martutu Aek merupakan ibadah memberikan nama kepada anak yang baru lahir atau disebut Haroanan Tondi Ro. Kemudian ibadah Pasahat Tondi merupakan ritual mengantarkan roh seseorang yang sudah meninggal atau disebut Pasahaton Tondi Lao.
“Untuk ibadah MarDebebata, merupakan ritual atas rasa syukur anugerah yang kita terima. Hal ini merupakan ritual perseorangan. Istilahnya, dilaksanakan baik, tak dilaksanakan juga tidak apa-apa,” bebernya. (bersambung)
http://www.metrosiantar.com/2015/07/01/197238/ugamo-parmalim-pertama-di-tanah-batak-bag1/

Friday, July 3, 2015

Penganut Parmalim & e-KTP

Jangan Persulit Penganut Parmalim Urus e-KTP


Seluruh Pemerintahan di Sumut Kembali Diingatkan
PEMERINTAH Daerah di Sumatera Utara kembali diingatkan agar jangan mempersulit warga penganut aliran kepercayaaan Parmalim, untuk mengurus Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP). Sebab memperoleh e-KTP merupakan hak setiap warga negara yang telah berusia diatas 17 tahun maupun yang telah menikah.
LAPORAN: KEN GIRSANG
Penegasan tersebut kembali dikemukakan Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri (Kapuspen Kemendagri) Reydonnyzar Moenek di Sumedang, Rabu (5/9).
Ia menilai hal ini perlu disampaikan, agar tindakan Pemerintah Kabupaten Kuningan yang menghentikan pembuatan e-KTP pengikut Ahmadiyah di Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, tidak meluas hingga ke daerah-daerah lain. Meski pun alasan penghentian, untuk menjaga kondusifitas, setelah adanya protes sebuah organisasi keagamaan.
“Stateman Sekda (Sekretaris Daerah) Kuningan menghentikan sementara e-KTP, itu sama sekali tidak benar,” ungkap Kapuspen yang setiap saat memberi keterangan kepada para wartawan ini.
Menurutnya, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 2012 tentang administrasi kependudukan, sangat jelas dikemukakan. Bahwa e-KTP merupakan hak semua warga negara yang berdomisili Indonesia. Sama sekali tidak mempersoalkan agama.
“Formulir untuk kolom agama, itu kan hanya boleh diisi dengan salah satu dari enam agama yang diakui negara. Tapi misalnya aliran kepercayaan seperti Parmalim ingin mencantumkan dari salah satunya bisa. Tapi tidak boleh dengan nama aliran kepercayaan tersebut. Karena pilihannya hanya ada hanya enam. Tapi kalau nggak mau, itu bisa dikosongkan kolom tersebut,” ungkapnya.
Oleh sebab dalam kesempatan kali ini, Donny tidak saja hanya mengingatkan Pemkab Kuningan. Namun juga Pemda Sumut, dan sejumlah pemerintah daerah lainnya.
“Karena untuk soal keyakinan, negara tidak bisa ikut campur. Dan kalau pun untuk kolom agama itu dikosongkan, itu hak warga negara tersebut. Itu boleh dan dibenarkan. Tapi kalau diisi diluar enam, tidak boleh. Saya sudah kontak dengan Pemkab, kita sudah ingatkan bahwa itu tidak benar.”
Sementara terhadap masyarakat sendiri, Donny secara khusus juga mengharapkan agar setiap warga masyarakat yang telah cukup usia untuk segera mengurus e-KTP. Alasannya sangat sederhana.
“Karena setiap warga negara (yang usianya telah cukup), itu wajib. Apalagi per 1 Januari 2013 mendatang, e-KTP telah berlaku sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden nomor 67 tahun 2011. Jadi rugi kalau tidak urus e-KTP. Karena basis data semua menggunakan e-KTP,” akhirnya.(jhon)
http://www.posmetro-medan.com/jangan-persulit-penganut-parmalim-urus-e-ktp/

UGAMO MALIM Pameleon Bolon Sipaha 5 2015

Pameleon Bolon Sipaha Lima 28-30 Juni 2015

Ribuan masyarakat umat Parmalim (Suku Batak) mengikuti ritual Sipahalima di Desa Huta Tingggi, Kabupaten Tobasa, Sumut, Senin (29/6/2015). Parmalim merupakan suatu aliran kepercayaan yang berasal dari keturunan Sisingamangaraja XIII, menggelar untuk memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan Debata Mulajadi Na bolon atau Sang Pencipta atas berkah yang diberikan selama setahun.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
http://poltaksirait.blogspot.com/2015/07/pameleon-bolon-sipaha-5-2015.html
Ari Pameleon Sipaha 5 2015

Ugamo Malim Huta tinggi Laguboti

Adsense